Syahdan Ketika Kehilangan Ara

Ilustrasi dari kumpulanfiksi.wordpress.com
Syahdan kehilangan Ara di saat pagi menyinsing kediamannya yang sunyi. Anak yang ia temukan setahun silam lepas kebakaran pasar, yang menangis tersedu-sedu tak dapat bicara itu, hilang entah kemana tanpa kabar atau semacam surat seperti yang Syahdan lihat dalam adegan-adegan di televisi. Syahdan kalang kabut. Ia mencari Ara di setiap sudut kediamannya, dari beranda hingga dapur. Nihil. Maka hari itu ia tidak berangkat kerja, bukan apa-apa, ia memang tidak bisa bekerja tanpa Ara. Azam di hati Syahdan akan cari Ara sepenuh hati, semampu diri, sehabis-habisnya waktu.

***

Syahdan dan Ara senang bernyanyi, setiap hari mereka biasa berdendang tembang. Syahdan berdendang, Ara menembang. Lelaki kurus berjenggot itu seakan terlupa bahwa dirinya sudah kepala tiga, sudah berlumut usia. Sudah tidak pantas untuk berjingkrakan atau bernyanyi kekanakan. Pantasnya memikirkan hal-hal yang serius, menikah misalnya. Tentu saja, tapi Syahdan tidak berani bermimpi tinggi. Pungguk terlalu merindukan bulan.

Sejujurnya, Syahdan malu kepada Ara. Kanak-kanak seharusnya tidak perlu memikirkan hal-hal pahit. Ara adalah kanak-kanak tapi ia memikirkan hal-hal yang pahit. Di luar sana, kanak-kanak sepertinya hanya memikirkan tentang hari ini, memenuhinya dengan kesenangan. Ada pula yang berlindung di bawah ketiak ibu, mengorok, bermimpi. Tapi Ara? Sempurna lah penderitaan anak itu bila ia tersesat di satu tempat dan tidak mengetahui jalan pulang.

Syahdan merenung, mencoba mengingat-ingat tempat yang biasa dan pernah disambangi Ara, sebelum dan sesudah perkenalan mereka. Ia catat dalam secarik buram apa saja yang terlintas dalam pikirannya, tentang tempat-tempat itu tanpa tertinggal barang secuil.

***

Entah sudah berapa kali Syahdan lihat buram itu. Menghitung-hitung tempat yang tertulis di atasnya. Lalu menghitung-hitung uang di dalam saku dan kemudian melirik jam. Tidak sampai waktu hari ini, maka ia memutuskan untuk pergi ke tempat yang dekat-dekat dahulu, ke pasar misalnya.

Tap tap tap. Langkah kaki lelaki itu berderap saat sepatu lokak kusam beradu aspal beku. Hari masih hijau, ia sudah sampai di sebuah tempat, di bagian pasar yang pernah terbakar. Ia melirik pada puing-puing bangunan yang hitam legam, pada dinding-dinding ruko bekas jilatan api. Melongok kesana-kemari, tapi bukan Ara yang ia temui, melainkan bayang-bayang.

Syahdan gelisah, teringat kejadian yang sudah-sudah. Kebakaran itu membuatnya menggelandang. Dulu ia pernah jaya, berdiri di balik tenong-tenong besar cabe giling, kunyit, jahe..., di dekat timbangan naik turun. Saat-saat jemarinya menekan angka-angka pada kalkulator dengan deretan notasi. Syahdan masih sering tersenyum waktu itu, dan yang terpenting tanpa beban. Berkecukupan. Meski sendiri merantau ke kota, ia tidak sepi. Masih ber-uang, berponsel, berpulsa. Masih sering menelepon ke kampung, bercanda dengan amak, mengabarkan kesuksesan yang mulai tampak. Tapi sekarang semuanya kenangan.

Ha ha ha. Di mulut Syahdan tertawa, di hati ia meringis. Lalu mengumpat. Lalu istighfar. Lalu menangis. Si merah itu merebut segalanya, membuatnya luntang-lantung menjajaki setiap inci pasar seperti orang gila. Tidak, tidak, ia memang gila, hingga saat keajaiban datang, si malaikat kecil Ara, si penyanyi jalanan, menemukan Syahdan lalu memanggilnya Ayah.

Ah, tidak ada Ara di sini! Yang ada hanyalah kenangan sepahit arang!

***

Syahdan duduk di sebuah kursi panjang saat hari mulai menua. Langit lembayung. Ia tercenung. Hatinya gelisah, temaram menanti kelam. Tanpa Ara ia akan hidup susah. Ara pelita, pengingat, penuntun. Ara adalah penyelamat saat ia hampir kematian hati dan akal. Ara penyempurna hidup dan kini ia menghilang.

Dalam kepayahannya berlari-lari ke sana kemari, mencari sosok mungil itu, Syahdan teringat sebuah pelarian. Peluh yang jatuh. Penyiksaan. Kematian. Tubuhnya bergetar hebat, serasa hidup akan berakhir waktu itu. Segerombol orang mengejar dengan emosi mengubun-ubun. Syahdan mengeluh, nasib tak berpihak. Ia tidak takut pada orang-orang itu, tapi takut pada hidup, pada mati. Lalu kota, yang saking ganasnya membuatnya terpaksa menyakiti seorang wanita. Wanita itu terpekik, suaranya melengking tinggi, menelusup ke telinga-telinga orang sekitar. Lalu, tak butuh waktu lama, orang-orang itu berkumpul dan mulai berkejar-kejaran dengan Syahdan.

Bukankah saat orang hampir mati karena kelaparan di halalkan baginya mencuri untuk mengatasi kelaparan itu? Sebagaimana kisah dari garin surau tempat ia mengaji zaman dahulu. Ah, ia terlalu banyak berpikir, terlalu banyak mengenang. Batu-batu kecil di jalanan luput dari mana. Ia tergelincir. Ia terjatuh. Matilah.

Hendak ia kembalikan tas jinjing di tangannya itu. Tapi nasi sudah menjadi bubur, perbuatannya sudah terlanjur. Dikembalikan pun takkan menjamin amuk massa akan mereda, tubuhnya yang tersungkur tak kan terhindar dari siksa. “Oh Tuhan, adakah neraka yang akan aku temui setelah mati dihajar orang-orang itu?” pikirnya. Syahdan menangis, hendak bangkit namun tak bisa, tubuhnya sama sekali tak bertenaga. Ia pasrah. Sesekali teringat wajah-wajah keluarga di kampung. Harusnya ia pulang saja lepas kebakaran itu, hidup tenang di kampung dengan berladang atau bersawah, hidup bahagia dan bersahaja kemudian menikah dan berketurunan.

Orang-orang itu kian mendekat. Tubuh Syahdan gemetar sangat. Wajahnya pucat pasi. Untaian kata ampun tak putus-putus dari mulut. Ampun pada-Mu, Tuhan. Ampun pada-Mu, Rabbi. Orang-orang itu kian mendekat. Mereka dapati Syahdan tersungkur lalu menghajarnya ramai-ramai. Tas di tangan Syahdan hilang entah kemana. Pukulan, tendangan, cacian, makian, semuanya muntah. Remuk tulangnya. Cabik hatinya. Syahdan mengerang. Ampun pada-Mu, Tuhan. Ampun pada-Mu, Rabbi.

Seorang anak perempuan datang, anak perempuan yang Syahdan lihat saat kebakaran itu. Ia menangis tersedu-sedu. “Sudah! Sudah! Dia ayah Ara, jangan sakiti dia. Dia begitu karena tidak kuat melihat Ara kelaparan. Sudah! Sudah!” Air mata anak itu berjatuhan membasahi tanah. Orang-orang bubar, tentang tas itu…, entahlah.

Waktu kian berputar, langit lembayung, dengan sisa-sisa tenaga Syahdan berdiri dan berjalan dibimbing anak perempuan yang bersimpuh di sampingnya sekian jam lamanya. Sesampainya di kontrakan Syahdan, Ara tetap berada di samping lelaki itu. Menunggu lelaki itu sembuh.

***

“Ara tidak mau mencuri Ayah, bila Tuhan memanggil Ara, Ara ingin datang tanpa dosa. Ara takut neraka. Ara lebih memilih bernyanyi walau dengan penampilan seperti ini”

Syahdan melirik Ara, anak perempuan dengan gara berpakaian pria. Celana sobek di lutut, kaos lengan pendek, sebuah gitar kecil dan rambut yang dipotong sebahu. Ingin ia peluk anak itu, tapi ia masih terkulai lemas di atas kasur.

“Ara tinggal lah di sini bersama..., A... yah. Ayah kesepian di rumah ini. Perlahan kesepian itu bisa membuat Ayah mati!” pinta Syahdan.

“Kalau begitu Ayah harus temani Ara bernyanyi. Kemana pun Ara mau pergi” anak itu menjawab girang. Dia tersenyum. Senyumannya serupa senyum bidadari. Syahdan jatuh hati. Ara menemukan rumah. Rumah bukan rumah singgah seperti rumah-rumah sebelumnya.

Demikian, Syahdan dan Ara menjadi sepasang penyanyi yang naik-turun segala macam angkutan. Bergentayangan di setiap persimpangan. Berkunjung pada beberapa rumah makan. Berdendang tembang. Syahdan berdendang, Ara menembang. Mereka senang bernyanyi karena dengan begitu mereka merasa bahwa hati mereka tidak pernah mati.

***

Matahari sudah tergelincir sedari tadi. Langit sudah kelam menyeluruh. Di sana bintang-bintang sudah bertaburan. Apa bintang-bintang bisa berkata, menunjukkan pada Syahdan dimana Ara kini berada? Jika memang begitu, ia ingin menanyakan pada bintang itu satu persatu. Atau rembulan yang meminjamkan cahayanya pada orang-orang yang berjalan di tengah kegulitaan malam. Dan awan-awan yang membentang di cakrawala.

Basah mata Syahdan, gelisah benar hatinya. Ia takkan bisa bernyanyi tanpa Ara, sebab Ara adalah nyanyian itu. Adalah liriknya, adalah iramanya. Tanpa lirik dan irama tidak adalah sebuah nyanyian. Ara umpama malaikat yang sengaja dikirimkan Tuhan agar hamba-Nya tidak berpaling, tidak tersesat. Tanpa terasa air mata wajah Syahdan berjatuhan. Seharusnya ia tidak tertawa saat itu, saat Ara tampil dengan wajah berkasai. Perempuan kecil itu hanya ingin tampil sebagaimana perempuan. Seharusnya Syahdan memahami itu.

Ah, Ara, dimanakah ia berada? Dimana pun Tuhan, tolong lindungi dia, ratap Syahdan berdoa. Azam di hati esok ia akan mencari Ara lagi, kemana jua, bahkan meski harus sepanjang usia.***

(Dimuat di Singgalang, 4 September 2016)

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Syahdan Ketika Kehilangan Ara"

Post a Comment

Hargailah penulis dengan memberikan apresiasi berupa komentar atau membagikan. Jangan lupa tinggalkan kontak agar saya bisa mengunjungi balik. Salam semangat :)