Ide Nekat Bangun Media Informasi dengan Uang Sisa Kembalian

Jika mencoba mengkaji sejarah (asik, bahasanya), pertama kali saya belajar membuat dan mengelola blog adalah tahun 2009. Ketika itu saya hanya seorang anak SMA yang keranjingan dengan dunia internet dan hampir setiap pulang sekolah mampir ke warnet. Apa yang saya lakukan di warnet barangkali sama dengan anak-anak sekolah kebanyakan; kalaulah tidak mengacak-acak jejaring sosial berarti memainkan game online yang saat itu tengah populer—jujur saja lebih dari 70% waktu ngenet saya habis menjelajahi dunia virtual di game itu.
startupstockphotos.com

Saya memang sudah membuat blog semenjak tahun 2009, berawal dari sekadar coba-coba. Kalau orang bisa buat, ya saya bisa juga dong (masa mau kalah?). Mereka main di warnet, saya juga ke warnet. Mereka makan nasi, saya juga makan nasi. Setidaknya dengan adanya blog saya punya sedikit dalih bahwa kemabukan saya oleh internet masih ada faedahnya—konon katanya orang bisa menghasilkan uang dari blog—meskipun blog yang saya buat masih berkaitan dengan game juga, dan tak kunjung berpenghasilan karena tidak dikelola dengan baik dan benar.

Namun, semuanya berubah saat negara api menyerang! Eh, bukan, bukan. Semuanya berubah saat saya mendapat informasi mengenai sebuah lomba blog yang diadakan oleh perguruan tinggi di kota kami. Alhasil, dengan terbatasnya kemampuan yang saya punya, saya buat sebuah blog baru di platform Blogspot dengan tema teknologi. FYI, penyelenggara lomba blog saat itu adalah mahasiswa Teknik Informatika. Singkat cerita, saya bolak-balik warnet dengan uang jajan sekolah yang saya sisihkan untuk berangkat ke warnet demi mengolah blog baru yang sudah saya bikin itu. Namun sayang dikata, jangankan jadi pemenang, hadiah hiburan pun tidak saya dapatkan—masuk nominasi pun tidak. Dan parahnya hasil lomba itu baru saya ketahui sangat telat setalah nyinyir nanya sama abang-abang panitia dan dia bilang “pengumumannya udah lama keluar, cuma abang gak enak aja sama kamu”. Jleb!

Nyesek banget pas tahu kebenaran itu. Sakitnya tuh di saku, uang sudah habis buat bolak-balik warnet tapi dewi fortuna tak memihak padaku *mewek*

But life is must go on! Kenangan pahit kekalahan itu sama sekali tidak menyurutkan passion saya untuk mempelajari lebih dalam tentang media dan juga teknologi informasi dan komunikasi, khususnya internet.

Disambut Amanah di Bidang Informasi dan Komunikasi

Seketika masuk ke kampus, saya merasa Tuhan membimbing saya untuk terus mengasah dan menjaga passion saya di bidang media. Tahun pertama saya di kampus saya diamanahi di bidang Jurnalistik. Saya sih sebenarnya oke-oke aja di tempatkan di bidang manapun, tapi mungkin para senior pengurus lembaga sudah menyelidiki (bahasa anak gaulnya: kepo) tentang kegemaran saya maka ditempatkanlah saya di bidang jurnalistik. Di bidang media ini lagi-lagi saya harus berurusan dengan blog, saya diamanahi untuk mengelola blog lembaga.
startupstockphotos.com

Dua tahun berikutnya, setelah saya menyelesaikan amanah di lembaga pertama saya di kampus—skala Fakultas—kemudian saya diamanahkan untuk aktif di lembaga tingkat universitas dan lagi-lagi diamanahi di bidang multimedia. Tahun itu, bersama dengan tim kecil kami, kami membuat sebuah portal berita islami sebagai bentuk syiar dari lembaga kami yang merupakan lembaga kajian islam tingkat universitas. Portal berita yang kami kelola cukup sukses dan terkenal (meskipun cuma di regional daerah kami) hingga akhirnya portal itu tenggelam lagi ketika amanah kami selesai di lembaga itu dan saya harus “migrasi” ke lembaga mahasiswa lain lagi.

Terlanjur tercitra sebagai “ahli” di bidang media, presiden mahasiswa terpilih pada saat itu mengundang saya secara pribadi untuk bergabung dalam jajaran kabinetnya dan memberi saya mandat untuk memimpin Kementerian Informasi dan Komunikasi (INFOKOM) Badan Eksekutif Mahasiswa tingkat universitas. Saya terima tawaran itu dan kemudian bertemu dengan sahabat-sahabat luar biasa yang dengan mereka saya, untuk pertama kali, belajar mendesain sebuah website menggunakan CMS Wordpress demi kepentingan lembaga kami.

Nyatanya kegiatan di lembaga mahasiswa hanyalah kegiatan yang menuntut kesukarelaan, tapi benar kata Ridwan Kamil: pekerjaan terbaik adalah hobi yang dibayar. Meskipun pada kasus saya ini saya tidak dibayar sama sekali, itu tidak mengapa selama saya bekerja sesuai passion saya itu sudah cukup untuk menyenangkan hati.

Kegemaran Menulis dan Perluasan Pembaca

Hadirnya internet bisa dibilang adalah anugerah bagi umat manusia. Pertama, karena internet dapat menghubungkan yang jauh. Kedua, karena dengan teknologi informasi dan komunikasi ini orang-orang di seluruh dunia bisa mendapatkan informasi dengan cepat dan mudah. Meskipun nyatanya teknologi itu ibarat mata pisau, jika kita menggunakannya dengan baik maka kita dapat meraup banyak kebermanfaatan di dalamnya. Namun, jika kita salah menggunakannya ia bisa melukai diri kita sendiri dan orang lain. Dan, yang lebih hebat lagi, dengan internet kita dapat melakukan optimasi dan memperluas jangkauan penyebaran opini atau bahkan usaha pribadi.
webdomnet.in

Satu hal yang menjadi faktor utama mengapa saya kerap diamanahkan di bidang media barangkali karena saya gemar menulis. Kegemaran ini sudah saya dapatkan semenjak duduk di bangku SD. Tiap kali ada tugas mengarang saya selalu antusias dan percaya diri saat diminta membacakannya ke depan. Yang jelas, sebelum mencoba bersahabat baik dengan internet, yang membaca tulisan saya sangatlah sedikit. Sebuah tulisan tidak ada apa-apanya tanpa pembaca, dengan mempertimbangkan itulah saya merubah blog saya yang dulunya bertema game menjadi blog bertema sastra.

Saya masih ingat betul beberapa teman blogger yang sering berkunjung ke blog saya waktu itu, mereka sama-sama penulis (pemula) seperti saya. Tapi, itulah hebatnya internet. Anda tidak perlu nama besar untuk membuat karya anda dinikmati oleh banyak orang. Bukankah sebelum Raditya Dika seterkenal (sekarang) ini, dia dulunya juga seorang blogger biasa. Dan, barangkali, ia tidak pernah menyadari jika teknologi informasi dapat membuat ia menemukan pembaca setianya yang terus ia jaga hingga saat ini.

Setiap orang diberi kesempatan yang sama. Hadirnya internet dapat dijadikan senjata yang powerful untuk melakukan berbagai kampanye: mempublikasikan tulisan anda atau bahkan melakukan branding atas diri anda sendiri. Sssttt, dan jangan bilang-bilang kalau internet bisa bikin anda jadi tokoh tanpa perlu usaha yang keras. Saya tiba-tiba ingat AwKarin dan sederet YouTuber populer lainnya, hehe

Bangun Media dengan Uang Kembalian

Suatu ketika, seorang dosen pembimbing meminta saya untuk mencetak dan menjilid jurnal ilmiahnya untuk diserahkan ke jurusan. Mungkin karena saya yang berada di radius terdekat, saya lah yang ditelpon untuk menghadap. Sang dosen memberikan mandat dan mengeluarkan selembar uang pecahan 100.000 rupiah dan berkata “segini cukup kan?”, saya hanya mengangguk dan tersenyum. Pengen sih jawab nyeleneh macam: Ya jelas cukup lah Pak, kecuali kalau cetak dan jilidnya di Planet Mars! Tapi macam-macam dengan pembimbing bisa kelar masa studi saya, haha

Singkat cerita, saya berangkat melaksanakan tugas, setelah semua selesai dicetak dan dijilid, uangnya masih tersisa lebih dari 80.000 rupiah. Niat hati ingin mengembalikan uang itu karena bukan hak saya, tapi setelah saya kontak sang dosen berkata “tidak usah dikembalikan, buat anda saja”. Alhamdulillah rezeki anak sholeh. Masalah selanjutnya adalah, untuk apa uang itu akan digunakan.
pelajar.me

Jika dibelikan kepada kerupuk, dengan uang sebanyak itu saya bisa mabuk (kerupuk). Dibelikan ke pulsa internet, kuotanya bakal habis juga, tidak berbekas. Alhasil, setelah menguras pikiran akhirnya saya putuskan untuk membeli domain saja, dan buat media baru dengan modal Blogspot dan domain yang dibeli dari uang kembalian tadi. Untuk niche atau topik yang dibahas oleh blog baru ini saya rencanakan sama dengan topik yang dibahas oleh blog ini, yaitu seputar pelajar. Maka, setelah jungkir balik memikirkan nama domain yang pas maka pilihan jatuh kepada pelajar.me. Setelah dipublikasikan, seorang kenalan saya bilang kalau domain itu brandable banget. Wah, senangnya. Tapi, kesenangan itu tidak berlangsung lama karena berbagai rintangan siap menghadang di depan mata.

Mimpi Indah Internet Positif untuk Kaum Muda

Satu hal yang melatarbelakangi saya membuat media dengan niche pelajar adalah karena kekhawatiran dengan kondisi anak muda saat ini. Saya pernah iseng, mengetikkan kata kunci “pelajar” di kolom pencaharian Google, dan tahukah anda apa yang saya temukan? Saya menemukan sederet artikel mengenai buruknya perilaku pelajar, saya yakin itu hanya oknum, tapi berita-berita itu adalah faktor penyebab citra pelajar Indonesia menjadi buruk. Dengan kata lain, itu adalah indikasi bahwa pemuda Indonesia saat ini masih banyak yang perlu diperhatikan dan diberikan nasehat yang baik.

Sisi negatif dari dampak perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, tidak dapat dipungkiri, menjamah generasi muda bangsa. Masih sangat banyak konten negatif yang tersebar di internet dan itu dengan sangat mudah dapat diakses oleh para pemuda. Saya tahu jika pemerintah sebagai pemangku kepentingan sudah berusaha keras untuk mengkampanyekan internet positif dengan memblokir situs-situs tidak baik bahkan sampai membuat karakter moe sebagai maskot segala. Itu lho, si Ipo-chan yang berkacamata yang sempat booming beberapa waktu lalu. Tapi, kalau kita hanya berharap pada pemerintah semata, mereka juga punya keterbatasan. Oleh karena itu, seyognyanya kita juga turun tangan untuk menyelamatkan teman-teman kita dengan cara kita sendiri.
akusenang.com

Banyak kampanye positif yang bisa kita lakukan dengan berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi saat ini. Hebatnya lagi, kita tidak perlu berpindah tempat untuk menjangkau komunitas yang lebih luas. Internet, telepon, SMS atau produk-produk komunikasi lainnya membuat jarak yang jauh menjadi dekat. Jadi zaman sekarang ini bukan cuma hubungan saja yang bisa jarak jauh a.k.a LDR tapi pendidikan pun bisa dilakukan dengan jarak jauh, seperti yang diusung oleh Universitas Terbuka. Tak terkecuali upaya merubah peradaban dari jarak jauh, dengan segala media yang kita punya.

Saya pribadi memilih untuk membangun media informasi dalam bentuk blog adalah karena saya lebih mahir di situ ketimbang yang lain dan saya nyaman di bidang itu. Teman-teman yang lain mungkin punya cara tersendiri untuk membangun Indonesia melalui teknologi informasi dan komunikasi. Mengenai media informasi yang saya bangun itu memang masih seumur jagung (baru 3 bulan), konten-konten di sana juga belum terlalu banyak. Tapi setidaknya apa yang sudah saya bangun telah dilihat lebih dari 65.000 kali dan saya bahagia dapat berpartisipasi dalam membangun Indonesia dengan sedikit bekal yang saya punya. Yang terpenting adalah kita mau berbuat sesuatu yang nyata ketimbang duduk diam saja atau berkomentar tanpa melakukan apa-apa. Setuju gak? Setuju saja lah ya *maksa*, karena saya yakin setiap kita pasti sudah punya konsep dan ide brilian untuk ikut serta berkontribusi positif untuk negeri tercinta kita ini.

Sebagai penutup, izinkan saya mengulang pernyataan saya sebelumnya bahwa perkembangan teknologi informasi dan komunikasi saat ini adalah anugerah bagi kita semua. Dan, generasi muda hari ini adalah generasi yang tidak bisa dipisahkan dari teknologi itu sendiri. Ini adalah peluang besar yang dapat kita ambil, dengan memanfaat keahlian dan potensi yang kita punya, marilah kita gunakan teknologi itu untuk menciptakan suatu gerakan yang positif. Terlepas dari besar atau kecilnya gerakan itu. Agar jika suatu hari nanti kita ditanya, apa yang sudah pernah kita buat untuk Indonesia tercinta, kita sudah punya bahan dan dapat dengan lantang menjawab bahwa kita sudah melakukan sesuatu yang cukup berarti untuk negeri ini.[]

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk " Ide Nekat Bangun Media Informasi dengan Uang Sisa Kembalian "

Post a Comment

Hargailah penulis dengan memberikan apresiasi berupa komentar atau membagikan. Jangan lupa tinggalkan kontak agar saya bisa mengunjungi balik. Salam semangat :)