Ketika Saya Ditanya Santai Mana S1 atau S2

Komparasi. Kehidupan manusia itu penuh dengan perbandingan-perbandingan. Kita, dalam hidup kita sendiri, barangkali tidak bisa mengira-ngira sudah berapa kali kita melakukan perbandingan satu hal dengan sesuatu hal lainnya.

Ketika berbelanja ke pasar, supermarket atau apapun, kita membandingkan harga.
Ketika berjalan-jalan ke suatu tempat, kita membandingkan pemandangan.

Bahkan tanpa kita sadari, kita kerap membandingkan diri kita sendiri dengan orang lain, atau diri kita sendiri dengan diri kita di masa lampau.

Bahkan blog ini pun, kadang saya banding-bandingkan dengan blog saya lainnya seperti ilmukata.com (padahal niche-nya jauh beda).

Contoh perbanding dalam hidup :p

Well, sebelum saya semakin kemana-mana, kita kembali ke topik.
Baru-baru ini seorang teman yang bertanya "mana yang lebih santai kuliah S1 atau S2?"

Saya jawab S1.

Ketika S1 dulu saya punya banyak waktu mengerjakan hal-hal lain. Duduk dan berkegiatan seharian di pusat kegiatan mahasiswa. Menjelajah di dunia virtual game online sesuka-sukanya. Tidur siang. Tidur malam. Tidur-tiduran.

Ketika ada tugas, gampang saja, carilah teman yang paling rajin dan buat tugas bersama (bertugas yang sama, alias nyontek master). Lha, kalau S2? Mau nyontek siapa, wong tugasnya masing-masing mahasiswa berbeda.

Kalau S1 dulu kuliah masih bisa berpandai-pandai, kalau sudah S2 mesti pandai!

Kata sang dosen sih, "kuliah S2 ini tidak bisa main-main, anda harus serius, tesis anda nanti tidak bakal sama dengan TA (tugas akhir), harus lebih mendalam dan bisa dipertanggung jawabkan"

Tiba-tiba teringan TA waktu S1 bikin model alat otomasi produksi yang parameternya tidak dapat terkontrol tapi tetap bisa lulus *cengengesan*

Tapi, jika dipikir-pikirkan lagi, parameter santai yang dikomparasi nyatanya bukan soal waktu yang tersedia versus tugas yang ada lagi, tapi jauh lebih berat daripada itu.

Sesuatu yang mau tidak mau harus saya sadari

Ada faktor X dalam pernyataan saya mengenai mana "S1 lebih santai dari S2", ia adalah masa dan usia. Hal ini mungkin juga terjadi pada diri anda, saat dulu anda begitu menanti waktu berhibur dan begitu antusias untuk itu tapi entah kenapa saat ini anda tidak terlalu peduli.

Orang bilang, semakin dewasa seseorang semakin sulit ia mendapatkan kebahagiaan.

Sebuah percakapan kecil terjadi antara saya dengan teman saya di sebuah jejaring sosial. Bermula dari sebuah foto yang ia upload.

Tentang faktor itu
*Transkrip gambar*
NOW YOU UNDERSTAND WHY PETER PAN DIDN'T WANT TO GROW UP.
Me : Why?
Her : too much questions, too much pressures, no fairy tale anymore, old always have to mean mature
Me : Peter Pan's life is one of that fairy tales. However, everyone need to face the reality
Her : Right, that's why I understand Peter Pan's
Sadar atau tidak. Mau atau tidak. Tapi ketika masanya tiba anda tidak akan bisa lari dari segala kerumitan jalan pikiran orang-orang dewasa.

Anda melihat teman sudah melenggang ke pelaminan, sementara anda belum.
Anda melihat teman sudah dapat karir yang bagus di perusahaan, sementara anda belum.
Anda melihat orang lain hidup dengan santai, sementara anda belum.

Merubah Perspektif

Makin ke ujung, tulisan ini makin berat saja. Tapi saya terpaksa melakukannya, saya tidak ingin membuang-buang waktu anda untuk membaca sebuah tulisan tanpa makna. Maka, sebelum tulisan ini berujung maka saya paksakan juga, memberikan sebuah pandangan yang mudah-mudahan bisa mencerahkan. Sebuah pandangan yang mudah-mudahan bisa membayar waktu yang sudah anda hibahkan, meskipun bayarannya belum setimpal.

Seorang petani yang melihat pesawat terbang di angkasa tercenung, ia berpikir: enak ya, jadi pilot, bisa terbang kemana-mana, gajinya besar pula. Keluarganya pasti sejahtera.

Namun sebaliknya,

Seorang pilot yang tengah mengemudikan pesawat terbang di angkasa justru berpikir: enak ya, jadi petani, bisa dekat dengan keluarga, bisa melihat senyum orang-orang yang disayangi sementara saya sudah berbulan-bulan tidak pulang ke rumah!

Saya pribadi mengambil S2 di kampung saya sendiri, dekat sekali, tidak seperti orang-orang kebanyakan yang sudah melanglang buana ke tanah seberang atau bahkan luar negeri. Tapi, jika kita cermati lebih jauh, selalu ada plus minus dalam sesuatu apapun di kehidupan ini.

Apa yang sedang anda jalani hari ini barangkali tidak begitu prestisius tapi, ketahuilah bahwa, ada yang Tuhan lebihkan bagi anda. Anda lebih dekat dengan keluarga, bisa pulang ke rumah sesuka anda. Anda masih dikelilingi oleh teman yang menyayangi anda. Hingga hal-hal lain di luar itu yang sangat pantas untuk anda syukuri namun terkadang mata anda tertutup oleh keinginan ini dan itu sehingga lupa untuk bersyukur.

Komparasi. Sampai kapanpun akan selalu ada perbandingan, antara ini dan itu. Mungkin juga antara aku dan kamu. Antara apapun. Tapi berjanjilah, ketika pada kenyataannya anda harus membandingkan sesuatu, bandingkanlah dengan bijak dan sugestilah diri anda bahwa bagaimanapun keadaannya anda masih beruntung dibanding orang lain di luar sana.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Ketika Saya Ditanya Santai Mana S1 atau S2"

Post a Comment

Hargailah penulis dengan memberikan apresiasi berupa komentar atau membagikan. Jangan lupa tinggalkan kontak agar saya bisa mengunjungi balik. Salam semangat :)