Tentang Bagaimana Kita Memandang Ramadhan

Habis Sya’ban, datanglah Ramadhan. Alhamdulillah Allah masih memberikan kita kesempatan untuk bertemu dengan Ramadhan yang mulia. Allah masih memberikan kita umur yang panjang, raga dan jiwa yang sehat. Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Ketika Ramadhan ini datang, adakah kamu bergembira?
Jikapun begitu, selanjutnya bagaimana kalau kita tanya ke diri kita sendiri bagaimana cara kita bergembira. Sewaktu saya kecil dulu saya gembira ketika Ramadhan datang karena ketika Ramadhan saya memiliki masa libur sekolah yang agak panjang. Di saat yang sama saya juga kesal karena harus dipaksa puasa oleh orang tua. Wajar, karena saat itu belum punya pengetahuan apa-apa. Tapi sekarang ini kebahagiaan itu bergeser pada motif yang seharusnya. Bahagialah kita karena ketika Ramadhan datang, pintu ampunan dibuka lebar, gerbang-gerbang syurga terbuka, gerbang-gerbang neraka tertutup dan syaitan-syaitan nakal dibelenggu.

Telah datang kepada kalian ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah mewajibkan kepada kalian puasa di bulan ini. Di bulan ini, akan dibukakan pintu-pintu langit, dan ditutup pintu-pintu neraka, serta setan-setan nakal akan dibelenggu. Demi Allah, di bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik dari pada 1000 bulan. Siapa yang terhalangi untuk mendulang banyak pahala di malam itu, berarti dia terhalangi mendapatkan kebaikan. (HR. Ahmad, Nasai 2106, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).
 
Merubah pandangan kita tentang Ramadhan

Seringkali juru ceramah di mesjid-mesjid atau di mushalla-mushalla mengatakan bahwa Ramadhan adalah bulan latihan. Saya tidak menyalahkannya, tapi kita boleh dong memandang Ramadhan dengan cara kita sendiri. Ada 12 bulan dalam penanggalan Hijriyah, 1 di antara 12 bulan itu adalah bulan spesial, ialah Ramadhan. Kita punya 11 bulan lainnya untuk beribadah dengan cara kita dan frekuensi yang biasanya tapi di bulan Ramadhan tentu tidak seperti itu. Menganggap bulan Ramadhan sebagai bulan latihan tidak akan memberikan motivasi yang besar. Karena latihan tidak punya daya tarik yang cukup untuk membakar semangat berkompetisi seseorang.

Bagaimana kalau menganggap Ramadhan sebagai bulan kompetisi, bulan pertandingan yang sesungguhnya, bulan berperang melawan hawa nafsu sendiri. Sebab setan telah telah dibelenggu, maka saat kau masih terjebak dalam maksiat tidak lain tidak bukan adalah karena kamu masih menuruti hawa nafsumu sendiri. Puasa itu bukan cuma menahan haus dan lapar coy, tapi menahan hawa nafsu.

Jikalau kita sudah bersepakat Ramadhan adalah bulan kompetisi, bulan perlombaan, selanjutnya tentu kita mesti merancang strategi agar kita bisa bertanding dengan persiapan penuh. Kita perlu membuat resolusi!

Apa yang kamu akan kerjakan dan persiapannya!

Di bulan Ramadhan semua orang berlomba-lomba melakukan ibadah terbaik dalam rangka fastabiqul khairat. Sebagaimana yang saya singgung sebelumnya kita perlu membuat resolusi dan menyiapkan segala sesuatunya. Beberapa dari itu mungkin bisa ditulis seperti ini:

Satu: List target pencapaian ibadahmu
Misalkan target tilawah/khatam Al Qur’an, shalat malam, shalat dhuha, shalat sunnah rawatib, infak/sadaqah, baca buku tertentu dan hal-hal lain yang diperlukan. Pastikan target ini sudah sedetil-detilnya, kalau bisa ditulis di kertas dan ditempel di tempat yang sering kita lihat. Di tulis di layar ponsel atau di mana pun juga sebagai pengingat.

Dua: Rencana pola harian
Kita cuma punya 24 jam dalam sehari sementara kita telah menentukan target-target kita. Kita perlu untuk merencanakan pola aktivitas kita dalam sehari. Kapan akan membaca Al Qur’an, shalat-shalat sunnah dan lain-lain.

Tiga: Siapkan perlengkapan yang diperlukan
Pastikan semua perlengkapan siap. Musyaf Al Qur’an yang akan digunakan. Buku/kertas untuk mencatat progres dari target-target pencapaian. Sarung, koko, peci, mukena. Dan segala hal yang kita perlukan agar kita bisa menjalankan Ramadhan dengan baik.

Empat: List kebaikan yang akan dilatih/ditumbuhkan
Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk meng-upgrade diri. Menumbuhkan kebiasaan-kebiasaan baik baru dan berusaha menekuninya selama Ramadhan berlangsung. Misalnya berwudhu sebelum tidur, membaca al matsurat di pagi atau petang, dan hal lainnya. Tidak perlu langsung banyak, 2-3 saja cukup tapi konsisten menjalaninya.

Lima: List kebiasaan buruk yang ingin dihilangkan
Sama dengan di atas, cukup 2-3 hal namun fokus untuk meninggalkannya.

Enam, Tujuh dan seterusnya,…
Kamu bisa menambahkan hal-hal lainnya yang ingin kamu lakukan

Bagaimana jika ini adalah Ramadhan terakhir kita

Kita tidak pernah tahu kapan hidup ini akan berakhir, kita beruntung masih Allah beri kesempatan bertemu dengan Ramadhan sedang saudara-saudara kita yang lain telah Allah panggil bahkan di H-1 Ramadhan. Kita tidak bisa menjamin apakah tahun depan kita juga akan bertemu dengan Ramadhan. Maka dari itu, Ramadhan kali ini kita harus berusaha maksimal sebagaimana yang kita bisa.
Semangat kita harus lebih dari sekadar semangat latihan semata. Tempatkan diri seperti seorang atlit yang bertekad kuat membawa medali untuk negerinya. Puasa dan ibadah lainnya nyatanya adalah untuk kebaikan kita sendiri. Semangat kita sehendaknya adalah semangat berkompetisi dalam bingkai fastabiqul khairat. Semoga kita bisa melalui Ramadhan ini dengan sebaik-baiknya dan menyambut kemenangan di Idul Fitri.

Dan, pada penghujung tulisan ini, saya ingin mengucapkan mohon maaf lahir dan batin pada semua orang yang menyempatkan diri berkunjung ke blog pribadi ini. Semoga Ramadhan kita berkah dan berkesan. Salam semangat untuk perubahan!


Postingan terkait:

1 Tanggapan untuk "Tentang Bagaimana Kita Memandang Ramadhan"

  1. Tentunya kalau ramdhan sudah mulai berkahir umat islam akan sedih :(

    ReplyDelete

Hargailah penulis dengan memberikan apresiasi berupa komentar atau membagikan. Jangan lupa tinggalkan kontak agar saya bisa mengunjungi balik. Salam semangat :)