Perang Pemikiran a.k.a Ghazwul Fikri: Antara Jual dan Beli


Konsep ghazwul fikr (perang pemikiran) sebenarnya adalah teori jual-beli, mereka menawarkan kepadamu sesuatu dan kamu yang tertarik mencoba membelinya. Kalaulah tidak bisa beli secara langsung maka akan terjadi tawar menawar, agar sesuatu itu bisa kamu dapatkan dengan harga yang murah.

Pada dasarnya, yang haq/benar adalah benar, dan yang bathil/salah adalah salah. Tidak ada negoisasi. Tidak ada toleransi. Namun para musuh islam hebat sekali mengemasnya sehingga apa yang awalnya bathil lama kelamaan bisa dimaklumi menjadi hal yang biasa, dan akhirnya benar!

“Mereka selalu mengulang-ulang kesalahan hingga akhirnya kesalahan itu menjadi kebenaran!” karena mereka tidak akan pernah berhenti sebelum kamu mengikuti caranya mereka.

Dahulu, anak-anak muda tidak ada yang berani berkeliaran malam-malam karena pada saat itu hal itu adalah tabu. Tidak ada yang berani karena pada saat itu anak-anak muda begitu menghormati dan patuh terhadap orang tua mereka. Hingga akhirnya kamu lihat di teve-teve acara-acara yang mengkampanyekan bahwa anak muda harus diberi kebebasan. Bebas berteman dengan siapa saja, bebas ke mana saja, bebas ngapain aja. Toh, kaki mereka yang punya, hidup mereka adalah milik mereka. Mereka yang berhak menentukan apa saja yang harus dan tidak mereka lakukan. Ah, benarkah seperti itu? Seakan lupa bahwa hidup adalah pemberian Yang Maha Pemberi.

Lantas, mereka hidup dengan cara mereka. Dengan cara-cara yang mereka pikir itu menyenangkan. Hingga singkat cerita, saat semua apa yang musuh islam jual itu mereka beli, mereka hidup dalam gaya yang bebas. Dan, naudzubillah, terjerumus pada kehinaan saat zina berhasil menjadi kewajaran.

“Kita pacaran sehat kok, gak pernah begituan” katanya. Semacam negoisasi. Emangnya kalau pacaran saja boleh? Selama tidak yang aneh-aneh. Karena tak mampu ‘beli’ kamu nawar agar pacaran bisa. Tapi ya, hakikatnya sama saja. Pacaran mendekati zina. Dan segala sesuatu yang mendekati zina itu dilarang.

“Kita nggak pacaran kok, cuma teman dekat” kata yang lain lagi. Mau teman dekat, atau teman jauh. Mesra-mesraan. Dua-duaan. Ya, sama saja lah. Itu Cuma masalah status.

“Astaghfirullah, kita tidak seperti yang dituduhkan, kita mencintai karena Allah, kita juga tak pernah ketemu, Cuma kontak lewat hape!” kata yang lain lagi, yang ini tampak alim.

Sob, emangnya khalawat itu Cuma berdua-duaan secara fisik saja? Nah, kalau sms-an, japri, berduaa, meskipun isinya mengingatkan kepada kebenaran. Ingatkan tahajud dan apapun itulah. Itu mah, sama saja.
Maka selayaknya, jangan nego lagi, saat Allah sudah menetapkan semuanya dan merencanakan segala sesuatu berjalan. Yang akan indah jika sampai pada waktunya. Lantas, kenapa kita tidak bersabar dan amanah terhadap kehidupan yang Allah berikan kepada kita?


Wallahu’alam

#SayNoPacaran
#SatuHariSatuTulisan

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Perang Pemikiran a.k.a Ghazwul Fikri: Antara Jual dan Beli"

Post a Comment

Hargailah penulis dengan memberikan apresiasi berupa komentar atau membagikan. Jangan lupa tinggalkan kontak agar saya bisa mengunjungi balik. Salam semangat :)