Pada Suatu Subuh

             
             Lelaki tua itu Panjul namanya, orang-orang memanggilnya begitu, tapi sebenarnya namanya bukanlah itu, hanya sebuah gelar yang diberikan orang-orang yang ia sendiri tidak tahu dari mana datangnya gelar itu. Nama terangnya adalah Muhammad Sabri, sebuah nama yang indah, meski bukan ia seorang bernama demikian di tempat itu. Ada dua orang lain yang bernama sama, yang pertama adalah anak Tek Niah tapi ia dipanggil Isap, yang lain adalah adik Jo Sidi tapi dipanggil Amaik dan lelaki itu adalah Muhammad Sabri yang dipanggil Panjul.
            Setiap nama tentu memiliki arti, begitu pula namanya. Ia diberi nama Sabri agar kelak menjadi anak yang senantiasa sabar. Kemudian waktu membuktikan ia bisa mewujudkan harapan yang terkandung dalam nama itu. Tumbuh menjadi lelaki yang senantiasa sabar dengan pahit manisnya hidup, dengan segala kekurangan yang melekat padanya. Senantiasa bertawakal, berserah diri hanya pada Tuhan. Air matanya yang tumpah-ruah di setiap pertigaan malam.
            Hidupnya adalah hidup yang disesaki beragam rahasia. Ia dilahirkan tanpa seorang ayah. Bukan karena ia dilahirkan dari rahim wanita yang tak baik-baik, melainkan ayahnya mati 3 bulan sebelum kelahirannya. Tempo itu tengah terjadi cakak banyak antara kampungnya dengan kampung seberang. Konon cakak banyak itu dipicu karena seorang bujang kampungnya menghamili gadis kampung seberang. Orang seberang berkata bahwa anak gadis mereka diperkosa oleh bujang yang cuma pandai bergadang dan berjudi. Orang kampungnya berkata bahwa bujang mereka digoda oleh gadis yang hanya bercelana sepaha dan berbaju daripada tidak. Kedua kampung saling menyalahkan dan kemudian beradu di perbatasan. Lalu datanglah ayah lelaki itu hendak menengahi, tapi kemudian yang terjadi ia malah dikhianati orang kampungnya sendiri. Bapak bujang yang berperkara itu menuduhnya lebih membela kampung seberang daripada kampung sendiri, lalu parang bersarang di pundaknya begitu saja, mengucurkan darah merah pekat diiringi lenguhan pedih. Lalu angin membawakan kabar pada ibu Panjul yang tengah menggulai paku di dapur bahwa suaminya telah mati bergelimang darah. Perempuan itu tersungkur di lantai sembari menangis kejang. Maka jadilah lelaki itu anak tanpa ayah.
            Setelah tragedi berdarah di perbatasan itu, bapak si bujang yang berperkara terus menghasut orang-orang kampung hingga lunturlah kepercayaan warga pada mendiang ayah Panjul yang dahulu begitu mereka segani. Semakin lama orang kampung tidak lagi menaruh hormat pada ibu Panjul. Ibunya tertekan batin, ia sama sekali tidak mempunyai tempat berlindung, ia hanya seorang pendatang. Ia tidak tahan dengan bisik-bisik orang hingga memutuskan untuk beranjak dari kampung itu. Di kota ia membangun suaka di pemukiman yang kumuh. Beberapa bulan setelah itu lahirlah lelaki kita ini, seperti memang ditakdirkan lahir untuk menjadi orang yang sabar. Ia lahir hanya dengan sebelah kaki. Kemudian ia diberi nama Muhammad Sabri, tapi orang-orang memanggilnya Panjul. Entah darimana datang panggilan itu.
***
            Hanyalah pada waktu subuh orang-orang akan melihat lelaki tua itu. Ia berjalan sendirian. Tergopoh-gopoh dengan sebuah kayu diapit ketiak menuju sebuah surau yang sudah rapuh di sudut pemukiman. Surau usang itu tidak terurus, garinnya telah pergi lebih dari 2 tahun yang lalu. Perihal apa yang ia dilakukan disana orang-orang hanya bisa menebak-nebak. Tak ada seorangpun yang mau mendatangi surau kumuh itu, meski Panjul kerap kali melantunkan adzan subuh. Orang-orang malah berpikir yang tidak-tidak. Ada yang berkata lelaki tua itu menuntut ilmu disana, berdialog dengan para jin atau setan. Tapi bukankah di surau tidak ada jin atau pun setan maka barangkali ia berdialog dengan malaikat, mereka meralat tebakan mereka sendiri. Ada lagi yang berkata ia hanya menenangkan diri disana, menghindari anak-anak yang terus-terus mengatakannya gila sebab penampilan yang urakan dengan sarung lusuh yang jarang dibasuh. Atau barangkali,... Tidak, tidak, ia tidak seperti yang kalian pikirkan, sergah seorang perempuan, ia hanya bertemu Tuhan disana, mencoba menjadi makhluk yang bersahaja” sergah seorang perempuan muda. Ah, mungkin hanya seorang itulah yang menjadi pembela lelaki tua itu.
***
            Tempat dimana lelaki itu tinggal adalah pemukiman dimana para pendatang singgah, menetap sebentar atau lama menunggu peruntungan mereka. Tempat yang tidak ada surat resmi buatan notarisnya. Tempat yang tinggal menunggu digusur oleh orang-orang yang kekar tubuhnya. Hampir dari semua orang yang tinggal disana berasal dari kampung, menuju kota berharap penghidupan yang lebih baik. Yang beruntung kemudian berpindah ke tempat yang lebih layak maka bahagialah mereka. Sedang yang kurang beruntung terpaksa menetap di tempat itu untuk menghabiskan sisa-sisa usia. Seperti lelaki itu, meski telah lama ia disana, hasil jerih payahnya belum bisa membawanya pindah. Meski begitu, ia masih tetap bersemangat berdagang di terminal atau di pasar, menjajakan buku-buku agama serupa tuntunan shalat dan lain sebagainya.
***
            Sesuai namanya, lelaki tua itu benar-benar menjadi sebentuk makhluk Tuhan yang sangat penyabar. Di tengah kekurangannya ia mampu menjadi orang yang bersahaja. Ia tidak pernah meninggalkan sholat meski tak pandai dengan berdiri. Ia tidak alfa berinfak atau bersedekah meski ia sendiri patut disedekahi. Ia mempunyai semangat yang kuat yang membuatnya tak lelah bekerja keras, menempuh jarak jauh dengan berjalan terseok sambil menyandang sebuah tas. Kesabaran dan semangat lelaki itu membuat seorang perempuan muda bersimpati kepadanya. Perempuan itu Rosna namanya, satu-satunya orang yang menjadi pembela bagi lelaki tua itu. Ia menganggap si lelaki tua sebagai sesosok ayah yang sebelumnya tak pernah ia punya, tempat ia mengadu dan mengais ribuan pituah. Bila kesulitan ekonomi datang menghimpit, ia akan datang pada lelaki itu sekadar menangis dan minta dikuatkan. Meski, dari pengamatan mata, lelaki itu tidak ada apa-apanya, namun ia pernah berjasa pada pemukiman dimana ia tinggal, dan Rosna tidak pernah melupakan kejadian yang satu itu.
***
            Satu tahun yang lalu pernah datang orang-orang bertampang sangar dengan tubuh kekar hendak menghancurkan pemukiman itu, lengkap dengan buldoser dan segala perlengkapannya. Konon, berdasar kabar burung, hendak dibangun komplek perumahan di wilayah itu. Mereka lantas memaksa pemukim untuk segera bergegas meninggalkan hunian mereka. Dan Panjul adalah orang yang paling menentang tempo itu. Ia menghadapi para algojo itu seorang diri, meneriakkan bahwa ia dan pemukim yang lain tidaklah punya tempat tinggal yang lain, sedang para pemukim yang lain hanya mengintip dari jendela-jendela mereka. Jikalau hendak dihancurkan pula, hendaklah dicarikan bagi mereka tempat tinggal yang lebih layak. Ia bertekad akan menghalangi buldoser itu meski akan terlindas dan mati. Kesudahannya orang-orang bertubuh kekar itu pergi, mengundur pekerjaannya selama batas waktu yang tidak ditentukan. Mendapati hal itu semua orang girang bukan kepalang. Nama lelaki itu disebut-sebut, dipuji-puji tapi hanya untuk beberapa hari, setelah itu mereka seakan lupa dengan apa yang pernah terjadi. Lelaki itu tidak dihiraukan lagi. Ia kembali sepi dan pada saat itulah Rosna hadir sebagai satu-satunya teman dalam hidupnya.
***
            Hari masih pagi. Langit belum terang benar, tapi Rosna telah tiba di depan gubuk lelaki itu. Ia mengintip ke dalam, tampak lelaki itu tengah sibuk memasukkan beberapa buku dagangannya ke dalam tas. Ah, sepagi ini, Rosna membatin, lelaki tua itu memang selalu bersemangat. Kemudian perempuan itu mendekat, mengambil tempat dan bersimpuh. Jantungnya berdegup cepat, ada satu hal yang ingin ia katakan, sesuatu yang ia yakin akan membuat lelaki tua itu ikut berbahagia. Lelaki itu menyambutnya dengan seulas senyum, Rosna tersenyum pula.
“Wah, pagi sekali Pak” Rosna membuka percakapan.
Kalau kelamaan kalah kita sama ayam!”
Rosna hanya tersenyum.
“Ngomong-ngomong ada keperluan apa kesini, Nak?”
“Anu Pak. Ada yang hendak Rosna bicarakan”
            Perempuan itu mengambil jeda, ia mengatur napas, menariknya dalam-dalam lalu menghambuskannya perlahan. Jantungnya semakin berdegup cepat.
“Rosna mau menikah, Pak!” lepas perempuan itu, ia dapat bernapas lega.
“Benarkah?”
Rosna mengangguk pasti.
“Alhamdulillah, kapan dan dimana?”
“Dua hari lagi akad nikahnya, Pak. Di mesjid dekat terminal. Rosna ingin bapak menjadi walinya.
“Insya Allah, bapak akan senang sekali bila Rosna sudah bersuami, ada yang akan menjaga. Dan bapak bisa pergi dengan tenang” lelaki itu tersenyum.
***
            Satu hari setelah itu adalah hari yang baik. Lelaki itu berhasil menjual cukup banyak dagangannya. Uang yang ia dapat ia niatkan untuk menambah biaya perkawinan Rosna pada esok hari. Ia tiba di rumah sekitar pukul sepuluh malam, tepat sepuluh menit sebelum hujan lebat disertai badai datang mengguyur. Lelaki itu cemas bilamana hujan tidak berhenti, esok adalah hari yang penting bagi perempuan yang sudah ia anggap sebagai anak sendiri itu—meskipun ia tak pernah menikah. Subuh esok hari ia ingin berdoa untuk kebahagiaan Rosna, lepas shalat di surau yang terletak di sudut pemukiman tempatnya tinggal.
            Kala waktu subuh datang lelaki itu bangkit dari ranjangnya, menuju sumur mengambil wudhu. Ia kenakan sarung dan peci lalu melangkah dengan terompa Jepang koreng menuju surau. Sepanjang jalan orang-orang terus memperhatikannya, perhatian yang lain daripada yang lain, seakan sesuatu yang lain dari biasanya akan terjadi. Setelah sampai lelaki tua itu shalat dua rakaat. Ia genapkan berdoa untuk Rosna. Doa yang panjang. Doa yang lama.

            Hingga datanglah siang, tapi orang-orang yang duduk-duduk di lepau atau di beranda rumah masing-masing tidak menemukan lelaki itu kembali. Beberapa jenak setelah itu seorang perempuan berjalan gontai ke arah mereka, wajahnya basah dengan lelehan air mata. Orang-orang keheranan. Bukankah esok ia akan menikah? Tapi kenapa ia menangis begitu? Rosna sesenggukan menjelaskan bahwa surau tua di sudut pemukiman itu telah roboh. Lelaki tua itu telah pergi menjemput sebelah kakinya yang lain.***Padang, 2012

*cerpen ini pemenang ke-3 Lomba Cerpen HUT Singgalang ke-44 awal tahun lalu

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Pada Suatu Subuh"

Post a Comment

Hargailah penulis dengan memberikan apresiasi berupa komentar atau membagikan. Jangan lupa tinggalkan kontak agar saya bisa mengunjungi balik. Salam semangat :)