Gakuen Spring! Chapter 1


[Ruang Klub, 19 Mei, pagi hari]
“Hei, ’Selamat Pagi’ Seiji!”
“Se-la-ma-to Pa-gi, Airin” entahlah, kenapa aku juga harus membalas dengan bahasa asing itu.
Dia selalu tampak segar seperti biasanya. Padahal sahabatnya, Taichi, sedang dilanda masalah. Hari ini Taichi tidak masuk sekolah! Kejadian waktu itu mungkin sangat memukulnya.

Sangat.

Aku sudah menghubungi ponselnya berkali-kali, tapi tidak aktif. Apa ayahnya pengusaha pakaian ternama itu marah besar kepadanya? Apakah ia tidak diberi uang jajan dan tidak diberi sopir untuk berangkat sekolah?

Entahlah.

“Ai, apa Taichi pernah menghubungimu?”
“A…a… apa?” jawabnya gugup. Kenapa dia bisa tiba-tiba gugup begitu?
“Ada apa?”
“A,..no… tidak, tidak ada apa-apa”

Hening.

“Apa kau mau ikut denganku ke rumahnya sepulang sekolah nanti?”
“He…”
“Kita harus mencari tahu kabarnya”
“Maksudmu kita berdua pergi ke rumah Taichi?”
“Ya, kita kan sahabatnya”
“E...to,…” dia tampak ragu “aku ada les Tari di kedubes hari ini,….”
“….aku sebenarnya mau saja, tapi kata Papa, guru Tari hari ini sengaja didatangkan dari Indonesia,…”
“….dan aku juga sudah janji dengan Mo,…”
“sssstttt” kataku sambil meletakkan telunjuk di bibirnya.
“Kyaaaa!” Airin terpekik.

Sial. Tamu itu telah pergi. Aku melihat banyangannya mengintip lewat jendela, tapi Airin tiba-tiba terpekik, kita kehilangan tersangka!

“Apa yang kau lakukan, ‘bodoh’!”
“Bo-doh?” apa yang dia katakan.
“Jangan sesekali sentuh aku, tahu!”

Aneh, apa gadis Indonesia itu semuanya seaneh dia?

[Kelas 2A, 19 Mei, 11:05]
Aku tidak pernah berhenti memikirkan Taichi, apa dia baik-baik saja. Ayahnya itu sangat pemarah. Kami pernah sekali ke rumahnya, ayahnya memarahiku karena tidak sengaja mematahkan ranting bonsai di kebunnya. Ckckck.

Pelajaran sekolah hari ini sama sekali tidak bisa dicerna otakku. Banyak pikiran memang menyebalkan.

Sin 2x + Cos 4x = …..

“Baik anak-anak, soal terakhir itu saya jadikan soal PR kalian, kerjakan baik-baik ya. Kumpulkan esok hari!”
Bu Guru itu akhirnya keluar kelas. Aku juga ingin keluar mencari udara segar, menenangkan pikiranku. Tapi tiba-tiba,….

“Seiji….! Apa ada siswa bernama Seiji disini?!”
Seorang siswa berkacamata berdiri di depan pintu kelas, sesak napas. Dia tampak menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan-lahan untuk menenangkan dirinya. Bukankah dia anak yang bersama kami di ruang kepala sekolah waktu itu. Ketua klub sains?

Fujita Kyousuke? Ada apa?

 “Gakuen Leak!” katanya “aku menemukan sebuah blog di internet yang memuat foto guru olahraga dan Taichi waktu itu!”

Apa? Siapa sebenarnya orang yang benci dengan sekolah ini?

“Apa kau yakin?!”
“100 persen”
“Apakah orang yang sama dengan orang yang menempel foto-foto itu?”
“Aku tidak yakin, bisa saja ada orang lain yang juga berniat merusak citra sekolah dan memanfaatkan pekerjaan Si Penempel Foto dengan membuat blognya di internet.”
“Jadi dia bisa saja orang yang berbeda?”
“Tentu”
“Sial!”
Apakah sebanyak itu?
“Apa yang akan kau lakukan, Kyou?”
“Aku akan menangkap penjahat itu,…aku merasa berhutang dengan sekolah ini”
“Tapi,…”

[Meanwhile, di suatu tempat]
“Mau sampai kapan kau akan melakukan hal semacam itu?”
“Sampai aku puas”
“Alasannya,…”
“Sederhana, aku sudah muak dengan semuanya”
“Ha ha ha,… kau benar-benar gila!”
“Lebih gila mana daripada serigala-serigala bermuka dua itu? Mereka memang sudah sepantasnya dimusnahkan dari bumi ini!”
“Maksudmu guru-guru?”
“Jika kau beranggapan begitu!”
Ciih,…
“Bumi ini diciptakan Tuhan bukan untuk para baji**an seperti mereka!”
“Ha ha ha,… aku yakin, andai kau punya Death Note kau pasti akan menuliskan nama mereka satu-persatu”
“Tapi ini dunia nyata, bukan anime!”
“Ok ‘terserah kau lah, bocah!’”
Sial, dia memakai bahasa aneh itu lagi!

[Kantor Kedubes RI, 19 Mei, sore hari]
“Papa, kalau boleh aku tahu, kenapa Papa mau ditugaskan di Jepang, kok gak di Amrik atau Eropa gitu?” tanya Airin kepada ayahnya.
“Hahaha, kenapa kamu nanya itu, Sayang?” sambil mengusap kepala Airin, dalam hati lelaki itu berkata “dia mirip sekali dengan ibunya
“Beneran ni, mau tahu?”
“Bener dong, Pa”
“Gak nyesel kalau nanti tahu?”
“Gak deh, dijamin!”
“Karena, dulu waktu masih kecil Papa,…”
“Mau balas dendam sama Jepang yang pernah jajah kita Pa?” potong Airin.
“Tidak,.. tidak…”
“Hm, karena Indonesia membosankan, banyak koruptor dan politikus gak berperasaan?”
“Hm,,, bisa jadi,… bisa jadi…”
“Aduh,.. apa ya… karena Papa ingin lihat sesuatu di sini?”
“Iya… iya…”
“WHOA! Stop Papa… STOP!”

Fyuh! “kok jadi kayak Eat Bulagong gini” keluh Airin dalam hati.
“Oke deh, Papa ngaku, ngaku nih,… karena waktu kecil Papa suka nonton anime” ujar laki-laki itu sambil sedikit tertawa.
“WHAT?!”

Airin cemberut, pipinya bergelembung. Ah, anime apa yang tayang di televise hitam putih tahun 80-an? Tapi memang itu yang diinginkan laki-laki itu, dia selalu suka melihat wajah cemberut anaknya.

[Ruang klub, 19 Mei, sore hari]
Airin sudah pulang lebih dulu, dia ada les tari katanya. Taichi tidak masuk, aku harus mencari cara untuk menemuinya. Kasus ini semakin rumit saat muncul blog yang memuat semua foto yang ditempel di mading itu. Agrrhh, siapa orang yang benar-benar keterlaluan itu.

Sudahlah.

Aku hanya tinggal menukar sepatu dengan sandalku dan berjalan pulang. Sore ini adalah saat yang tepat untuk tidur dan melupakan semuanya. Tapi,.. tapi,.. bagaimana dengan ancaman kepala sekolah itu?

Sial!

“Seiji….! Kau ada di dalam?” seseorang mengetuk pintu ruang klub. Kyousuke! Ada perlu apa dia ke sini?
Aku membukakan pintu, tiba-tiba dia menarik lenganku. “Kita disuruh menghadap kepala sekolah sekarang juga”
“Ah, apa lagi ingin Pak Tua itu!”
“Ayo segera ke sana!”

[Ruang kepala sekolah]
“Apa ada diantara kalian yang bisa menjelaskan ini!” kepala sekolah memperlihatkan layar laptopnya kepada kami. Tidak salah lagi, blog kriminal itu!
“Bukan kami pelakunya, Pak” Kyousuke membela diri.
“Apa kalian bisa mencarikannya? Apa kalian bisa menangkapnya?”
Aku dan Kyousuke saling bertatapan.
“Untuk sekolah ini, jika kalian bisa, maka aku akan memberikan penghargaan khusus kepada
kalian dan menambah anggaran klub kalian!”

Kyousuke mengangguk.

“Bisa… kami akan melakukannya!”

Apa? Dia bilang kami, kenapa harus membawaku. Aggrrrh!

“Jika kalian tidak berhasil dalam waktu 4 bulan,…”
“Jika kami tidak berhasil bagaimana Pak?” tanyaku.
“Aku tidak hanya akan membubarkan klub kalian berdua,…” terangnya “….KALIAN JUGA AKAN DIKELUARKAN DARI SEKOLAH INI!” laki-laki itu memukul meja kerjanya.


Apa yang harus kulakukan setelah ini?

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Gakuen Spring! Chapter 1"

Post a Comment

Hargailah penulis dengan memberikan apresiasi berupa komentar atau membagikan. Jangan lupa tinggalkan kontak agar saya bisa mengunjungi balik. Salam semangat :)