Dua Otaku Laknat (Bagian 1)

Orang banyak bilang, masa SMA adalah masa yang paling menyenangkan. Bukannya gw setuju, cuma penasaran, bener ga sih yang orang-orang bilang itu. Yah, karena sekarang gw sudah berhasil keterima di sebuah SMA favorit di kota gw, mari kita buktikan.
Oh ya, kenalin dulu, nama gw Zuki tapi teman-teman SMP dulu manggilnya Zuma, nama lengkap gw Juki Mancini (sengaja pakai “z” buat panggilan biar lebih keren), nah Zuma itu ya singkatan dari nama lengkap gw. Heh, apa?
“Kamu jelasin juga, Juk, kenapa ga Zuman atau Juman panggilannya”
“Oh, ok ok, tengki bro!”
Ya, dulu ada yang iseng panggil gw Zuman, ya gak senang lah gw “Zuman, zuman. Zuman Mak Lu kasmaran!”, ada juga yang manggil Juman “Juman pala lu, gw kame-hame juga lu, emang gw Jumanji ape?” *sewot* Ah, pokoknya janganlah lu panggil gw Zuman atau Juman, kalau lu masih ngotot panggil juga, gw pensiun deh jadi tokoh ini cerita, nanti gw bikin surat pengunduran diri buat si pengarang, he he…
“Emang kamu tahu siapa pengarang ini cerita?”
“Dia sih ngakunya ganteng dan imut gitu,… Cuih, yang bener aja, tampang kayak,….”
Pletakkk! Tiba-tiba batu bata jatuh menimpa kepala Juki.
“Kualat,.. kualat,… berani lawan pengarang, makanya!”
“Eh,… ampun,… ampun Bang Pengarang yang ganteng, baik hati dan rajin menabung!”
Ting! Tiba-tiba terselip uang seribu di tangan Juki yang dia katup.
“Horai!”
Hening….
“Eh, sampai mana kita tadi? Oh ya, pokoknya jangan panggil gw Zuman atau Juman, kalau lu tetap panggil gw gitu,… kalau lu cowok bakal gw pites, nah kalau lu cewek bakal gw cium” *memonyongkan-bibir*
Brakkk! Tiba-tiba tulisan “MESUM” gede jatuh tepat di kepala Juki dan dia terpuruk ke lantai ubin. Impact,… Impact,…
“Sudah Juk, giliranku sekarang”
Juki mengangkat bendera merah, eh maksudnya bendera putih. *berkibar-kibar*
Nah, itu tadi perkenalan dari si Juki, kalau aku sih lebih suka panggil Kodok, hehe. Mau tahu kenapa? Kalau kamu seorang gamer pasti tahu permainan Zuma Luluxe, itu lho yang jagoannya kodok yang menembak-nembakkan bola warna-warni. Tahu tidak? Kalau tidak ya sudah,…
Yosh, perkenalkan namaku Bima Satria Prawira, versi Jawanya Bimo Satrio Prawiro, Yoroshiku Onegaishimasu! Eh, apa? Bukan, bukan! Aku tidak tahu juga kenapa namaku agak mirip dengan pemeran utama serial Satrio Garudo itu. Mungkin kamu bisa tanya langsung pada pengarang (kalau kamu kenal) kenapa namaku begitu.
Aku dan Juki adalah teman satu SMP, kami menjadi akrab karena memiliki kegemaran yang sama. Kami sama-sama mempunyai perhatian yang lebih terhadap anime! Dan setelah itu persahabatan kami mengalir begitu saja. Kami sering bertukar koleksi anime, figur, poster bahkan,….
“Ssssstttt…. Eh, jangan bilang yang itu,… banyak pembaca yang belum cukup umur di sini, Bung!”
Gomen,… gomen,…
Mungkin karena kami sama-sama mendapatkan nasib buruk: kami sama-sama jomblo sepanjang masa! Tidak pernah punya pacar, jangankan pacar teman perempuan saja tidak. Perempuan-perempuan itu memang makhluk yang kejam, mereka menjuluki kami 2-otaku-terkutuk,… yang paling menyakitkan kata-katanya itu lho,… : “jangan dekati mereka, mereka itu laki-laki abnormal yang suka sama tokoh kartun yang katanya ‘moe’ habis,… dan kalau pun ada manusia yang mereka suka, tidak lain tidak bukan, personil BAB48!”
Fyuh *sweat*
Mungkin karena waktu SMP kami kurang populer, biar dapat pacar setidaknya kau harus populer terlebih dahulu, maka dari itu di SMA ini,… kami akan menjadi,…
2-cowok-populer
Kami sudah memikirkan cara-caranya,…
Ha ha ha ha. Tertawa kompak. Mirip joker.

Chapter 1: Kamu Terlahir Untuk Menjadi,… Bintang?

            MOS a.k.a Masa Orientasi Siswa adalah masa-masa laknat saat kalian menjadi kacung yang disuruh oleh senior-senior yang sok galak padahal dalam hati ketawa ngakak. MOS hanyalah sebuah ajang balas dendam turun-temurun, siapa yang setuju?
            “Gw gak, om Narator!”
            Ok Juki, kenapa kau tidak setuju?! *sambil-mengepalkan-tangan*
            “Karena di MOS kita bisa ketemu teman baru!” *senyum-pepsoden*
            Oh ya, mungkin akan saya ceritakan juga adegan-adegan yang itu. Waktu itu,… *flashback*
***
Ciih,… benar-benar sewenang-wenang ini para senior, masa laki-laki disuruh pakai anting dari kulit jengkol! Yang cewek cuma disuruh rambut kepang dua, bagi yang gak jilbab dan pita gede di ubun-ubun, bagi yang jilbab! Dunia ini kejam!”
“Terus aku harus bilang ‘sugoi!’ gitu?”
“Apaan sih lu!”
Lonceng tanda berkumpul berbunyi. Tengketengeetengketengtenggggtenggteng,… Buset, zaman canggih seperti ini masih pakai lonceng, Neng? Mana bunyinya tidak beraturan juga. Tapi cukup ampuh untuk membuat para siswa baru kocar-kacir lari ke lapangan.
“SEMUANYA BERBARIS SESUAI KELAS MASING-MASING. YANG NGERASA PENDEK BARIS DI DEPAN!!!” seorang senior berambut gaya emo berteriak dengan pengeras suara.
“Eh, Juk. Kok kamu baris di belakang, kamu kan pend,…”
“Sssssttt, gw pengen lihat cewek-cewek sekelas mana tahu ada yang cocok, xixixixixi”
“….”
“Eh, gw ingat, gw ingat. Lu kan setia banget sama Hatsune Miku,… sampai ngigau ‘huuuhuuu,… Miku kawaii yo ne,… rambut kepang dua dan suara tiada dua,…’ sambil nyium bantal yang sudah berpulau-pulau, xixixixixi”
“Diam!” *blushing*
 Konon, sejak SMP Juki sering main ke rumah Bima.
“Lagi,…lagi,… pas ada event cosplay lu pasti ngebet banget minta dipotoin sama cosplay Miku sampai nangis-nangis ga mau pulang, gitu…”
“Diam Kodok!” *more-blushing*
“Lagi,.. lagi,… lu bahkan edit poto lu biar bisa berdiri bareng Miku dengan sotosop terus dikasih bingkai da ditarok di meja belajar, setiap mau tidur dielus-elus dulu dan dicium ‘Miku-chan, oyasumi….’ Huahahahahhahahaahhahahaha!” *more-more-more-blushing*
Wajah Bima memerah, kepalanya berasap.
[Zuper Otaku Punch] Sebuah pukulan mendarat di perut Juki, brukkk! Dia terdorong dan akhirnya membuat barisan terjatuh seperti barisan domino! Seorang senior berambut emo buru-buru lari ke TKP,…
“SIAPA ITU TADI PAHLAWAN BERTOPENG?!”
Semua yang terjatuh buru-buru berdiri.
“SIAPA ITU PAHLAWAN BERTOPENG TADI?”
Semua yang sudah berdiri kompak menunjuk Juki.
“SIAPA TADI PAHLAWAN BERTOPENG ITU?!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”
Mati gw,… batin Juki.

***
            “KALIAN TUNGGU DISINI, PARA PEMBANGKANG!”
            Si senior emo menyibakkan rambutnya dan memperlihatkan mata kirinya yang biasanya tertutup. Dia memelototi Juki.
            “LU UDAH GW KUTUK PAKAI ‘CURSED EYE’, HA HA HA HA,…” *uhuk-uhuk*
            Juki gemetaran.
            “LU BAKAL GA PUNYA PACAR SEUMUR HIDUP!”
            Juki pingsan.
            “Kesehatan! Kesehatan!” Bima kacau, dia teriak seperti orang sakau!
            Seorang siswi berambut panjang yang dikepang dua datang,… dan entah dari mana ada angin berhembus yang menggoyang-goyangkan rambut si gadis. Seberkas cahaya menyinarinya, seperti lampu sorot pertunjukkan. Bima terpaku melihat gadis itu,..
            “Mi,..mi,..miku! Hatsune Miku!”
            “Apa? Apa?!” Juki iba-tiba saja bangun mendengar nama Miku disebut, sebenarnya dia juga fans berat Hatsune Miku, dan melakukan dosa-dosa yang dilakukan Bima juga, tapi semenjak BAB48 dibentuk di Indonesia dia jadi kepincut ama Naisila dan Miku mulai dilupakan. Tapi benar kata orang banyak, menghapus nama mantan itu tidak semudah yang dibayangkan,…
            “A,..apa? Tisu Midu maksudmu?”
            “Nih,… kalau kurang ambil lagi, ambil lagi,… Midu lagi, ambil lagi, ambil Midu!” *singing* sambil menyodorkan segulung tisu toilet. Bima geleng-geleng.
            “Bukan, bukan,… tapi Miku,.. Hatsune Miku!”
            Juki tidak lepas memandangi gadis itu.
            “Hmm,… “MOE” banget!” ujarnya karena kagum dengan ke-moe-an (imut) gadis itu. Tapi gadis itu salah tanggap.
            “MO-LEK?!”
            Brukkk! Sebuah pukulan mendarat di perut Juki. “WHOAAAAA!!!!” dan akhirnya dia tumbang. Damage = 9 + Critical 999999999!
            “Kesehatan! Kesehatan!” Bima tambah kacau.
            “Eh, aku ini kesehatan lho” tiba-tiba gadis itu berbicara.
            “Manis banget!”
            *blushing*
            “Aku tidak memapan dengan pujianmu itu, tidak butuh!”
            “Tapi bener lho ini”
            “Aku tidak akan berterimakasih padamu dasar bocah mesum!”
            “….”
            Hening.
            “Tsuntsun,… Tsundere!”
            Bruukkk! Sebuah pukulan mendarat di perut Bima. “Selamat tinggal dunia,….” Bima tumbang. Damage = 9 + Critical 999999999!
            “SUNDEL APAAN, BODOH! EMANG GW SUNDEL BOLONG!”

            Fyuh, sebenarnya adegan kekerasan itu tidak perlu terjadi kalau saja alat bantu pendengaran gadis itu tidak rusak!

(bersambung)

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Dua Otaku Laknat (Bagian 1)"

Post a Comment

Hargailah penulis dengan memberikan apresiasi berupa komentar atau membagikan. Jangan lupa tinggalkan kontak agar saya bisa mengunjungi balik. Salam semangat :)