Sayap yang Mengembara


Dia tidak di rumah, jawabku, tatkala seorang perempuan muda mengetuk pintu dan menanyakan padaku adakah Arni di rumah. Aku tidak mengenal wajah perempuan itu, mungkin kawan Arni yang baru, aku tahu ia mempunyai banyak kawan. Ia mudah bersahabat dengan orang lain hingga seringkali ia menghilang tanpa diketahui, yang kutahu hanyalah ia mempunyai banyak tempat untuk dikunjungi. Lantaran demikian pulalah aku belum juga bertemu muka dengannya semenjak tiga hari kepulanganku. Jujur, aku merindukannya. Kami sudah terlalu lama terpisah jauh. Empat tahun yang lalu tepatnya, aku berangkat meninggalkan kampung kami menuju tanah seberang. Merantau. Mencoba mencari peruntungan. Ibu, Ayah dan Arni melepasku di terminal dengan linangan air mata. Mata Ibu dan Ayah pastilah berlinang tersebab berat melepasku pergi, tapi Arni ia lain lagi, matanya berlinang oleh sebab ia juga ingin merantau. Ia tidak pernah mau kalah dariku meskipun ia perempuan. Dan yang paling penting adalah ia tidak ingin dipingit.

            “Tamat SMA kau akan kemana?” tanya Arni tempo itu.
            “Ke Jawa, tempat Mak Etek, coba cari kerja di sana” jawabku dan kemudian aku diam. Sengaja tidak kutanyakan ia sebab kutahu ia pastilah akan dipingit, seperti kebanyakan perempuan di kampung kami, dan kemudian dicarikan laki.
            “Aku juga ingin merantau!” pekiknya, aku diam saja.
            “Aku tak ingin menjadi burung di dalam sangkar. Lagipula ini bukan lagi zamannya Siti Nurbaya” ia terisak, air matanya berceceran.
***
            Aku dan Arni adalah saudara kembar. Dulu tak pernah ada yang menyangka Ibu akan melahirkan anak kembar. Semasa mengandung perut Ibu tidak terlalu besar namun nyatanya kemudian beliau melahirkan anak kembar, pun dengan bobot yang hanya lebih sedikit dari botol minuman. Barangkali sebab perseteruan itu, terawang Ibu, dulu Ayah dan Ibu selalu berselisih. Ayah menginginkan anak lelaki untuk membantunya berladang sedang Ibu menginginkan anak perempuan untuk diajar memasak dan menganyam pandan. Antara keduanya tiada yang mau mengalah. Ayah bilang lebih baik anak lelaki dulu, anak perempuan yang kedua saja, tapi Ibu berkata sebaliknya. Dahulu mana ada teknologi kedokteran untuk melihat jenis kelamin anak dalam kandungan, lagi pula kami hanya keluarga yang cukup-cukupan, yang tidak punya uang lebih untuk ke dokter spesialis kandungan. Beruntung kami lahir secara normal sehingga bidan tidak kepusingan, coba kalau sesar, mana ada uang buat operasi. Dan Tuhan memang maha adil, kelahiran kami disambut dengan tempik sorak. Semula Ibu memang sedikit kecewa mendengar tangisanku—yang menunjukkan bahwa anaknya lelaki—namun kemudian beliau masih merasakan ada yang tertinggal dalam rahimnya, dan lahirlah Arni beberapa menit setelah itu. Seiring waktu berlalu Ayah dan Ibu sibuk dengan anak mereka masing-masing. Setelah itu memang kami tidak mendapatkan adik, Tuhan sudah mencukupkan.
***
            Keluarga kami adalah keluarga peladang, berkat ladanglah kami tumbuh dan berkembang. Saban hari aku dan Ayah akan menokak tanah, menanam dan merawat sayuran. Sesekali bila tidak ada kerjaan Ibu ikut membantu di ladang kami, menyiangi rumput atau memanen. Tentu saja Arni ikut membantu pula, ia cakap sekali. Sesekali ia mengajakku untuk bertanding siapa yang lebih cepat dan lebih mampu memanen banyak, ia memang tidak pernah mau kalah saing. Pun di sekolah, rangking kami selalu berkejar-kejaran. Aku selalu menggerutu mendapati nilainya lebih tinggi dariku. Aku mencari alasan untuk mewajarkan kekalahanku itu. Kau hanya membantu Ibu di rumah tentulah iya, banyak waktu untuk belajar sedangkan aku harus ke ladang sedari pagi hingga petang, ketika pulang badanku sudah letih sekali, kataku. Dan tersebab perkataanku itulah kiranya ia menjadi sering meninggalkan Ibu untuk mencuri-curi waktu ke ladang. Ibu yang kehilangan anak perempuannya mencak-mencak pada Ayah. Kesudahannya aku dan Arni tiada boleh ke ladang lagi. Tapi nyatanya kami selalu mencuri-curi.
***
            Pada kenyataannya sepulang sekolah kami selalu menghambur ke ladang, sebab tidak boleh lagi membantu-bantu kami jadi lebih sering merenung. Hingga beberapa hari setelah itu kami mendapatkan kegemaran baru: mengamati burung. Ya, mengamati burung. Kami jadi candu untuk sekadar duduk-duduk di ladang kami. Memandangi pohon-pohon yang mengelilinginya. Saban hari kami mengendap-endap agar tidak diketahui. Bersijingkat memasuki ladang hanya untuk mendengar kicauan burung. Kami bahkan hirau terhadap nyamuk yang menggerayangi tubuh kami. Memandangi barabah atau murai di dahan bayur atau cempedak menjadi sesuatu yang begitu menyenangkan. Orang-orang jadi heran mengapa kami sering keluar-masuk ladang hanya untuk hal semacam itu, hingga kemudian mereka mafhum bahwa anak kembar terkadang mempunyai kegemaran yang sama—terlepas dari aneh atau tidaknya kegemaran itu.
            Suatu hari aku membawa serta kawan-kawanku ke ladang kami. Aku sengaja tak mengajak Arni sebab kupikir mengajak perempuan hanya akan menimbulkan kerepotan. Aku dan kawan-kawan hendak menangkap burung-burung di ladang dengan menembaki mereka menggunakan ketapel. Namun sungguh di luar dugaan, tatkala kami hendak memasuki ladang Arni menangkap gelagat kami, waktu itu ia bersama Ibu datang mengantar makan siang Ayah. Tentu saja ia minta ikut. Tidak boleh, jawabku. Dia marah-marah dan tanpa kusangka ia merebut ketapelku dan memutuskan talinya, kemudian ia menginjak gagangnya. Aku ternganga, tiada mampu berkata-kata. Kau tidak boleh menyakiti burung-burung! hardiknya.
***
            Kembali kutekan beberapa tombol ponselku, aku menghubunginya lagi setelah tak pernah tersambung sebelum-sebelumnya. Kami tidak bertemu sudah sedemikian lama, aku menjadi rindu sekali. Terakhir aku pulang dua tahun yang lalu namun ia sedang tiada di rumah saat itu, seperti saat ini pula. Tempo itu ia sedang mengikuti pelatihan pemuda di luar kota sebulan lamanya, padahal aku hanya pulang selama 2 minggu saja. Aku kecewa. Ah, ia memang aktif di berbagai lembaga sosial dan aku harus memaklumi itu. Ia sering berpergian, terbang dan hinggap di sana-sini layaknya seekor burung. Ibu dan Ayah yang sudah lama kelimpungan terpaksa memakluminya sebab Arni memang tak pernah bisa ditahan-tahan. Tempo itu contohnya, baru selang 2 minggu aku melenggang ke tanah Jawa, Arni minggat dari rumah. Di rumah terus jadi gerah, akunya pada Ayah. Tentu saja Ayah dan Ibu jadi begitu khawatir. Anak gadis diperlepas nanti bisa jadi salah langkah. Kesudahannya Ayah hanya bisa memberi petuah. Aku yang mendapati kabar Arni dalam sepucuk surat hanya kuasa menggeleng-gelengkan kepala. Berikutnya kukirim surat khusus buat saudara kembarku itu, isinya pendek sekali.
            Apa kau masih mencintai burung-burung? Dengan keadaan yang seperti sekarang cobalah mencintai rama-rama. Kau harus menenggang Ayah dan Ibu yang setiap hari selalu mengkhawatirkanmu….
            Dua minggu setelah itu aku mendapat surat balasan. Dalam surat itu Arni berkata bahwa ia tidak mencintai rama-rama. Pun rama-rama itu indah tapi burung baginya jauh lebih menawan. Runcing paruhnya, tajam matanya dan kepak sayapnya,… Pemakan cacing dan biji-bijian, bukan cairan manis bebungaan. Burung bukan makhluk yang lemah. Ia mempertegas bahwa sampai kapanpun ia akan tetap mencintai burung-burung. Katanya,… ia ingin menjadi burung.
            Sambungan teleponku akhirnya masuk juga, sebuah suara terdengar dari seberang sana. Aku menjadi gugup.
            “Ibu dan Ayah memintamu pulang, ada yang hendak dibicarakan”
            “Apa itu?”
            “Kau pulanglah dahulu, aku tidak jelas”
            “Kau masih di Jawa?”
            “Aku sudah pulang!”
            Telepon kemudian ia tutup, aku menghela napas panjang.
***
            Aku benar-benar tidak menyangka bahwa ternyata maksud Ayah dan Ibu menyuruhku pulang adalah untuk membujuk Arni agar mau menikah. Biar dia diam di rumah, sebagai seorang istri ia tidak mungkin berkelana lagi, jelas Ayah. Bukannya aku menolak, jelasku, tapi tolong beri aku waktu. Kau kan kakaknya, mungkin perkataanmu akan ia dengar, potong Ibu. Aku mengangguk, aku akan melaksanakannya tapi tentu tidak dengan segera. Arni baru saja pulang dan aku tak ingin langsung mengatakan itu. Aku takut ia akan pergi lagi dan mungkin tidak akan kembali dalam waktu yang lama. Aku paham betul dengan wataknya yang keras kepala itu. Beruntung Ayah dan Ibu kemudian mafhum.
            Semenjak Arni berada di rumah sebenarnya aku mempunyai banyak waktu untuk membicarakan hal itu dengannya, tapi entah kenapa pembicaraan itu tersekat, tidak bisa keluar dari kerongkonganku. Seperti batu yang tidak bisa mengapung di permukaan air. Kesudahannya setiap kami mempunyai kesempatan berbicara, kami habiskan hanya untuk bercerita tentang segala hal di luar itu. Ia jadi betah di rumah sebab mempunyai kawan untuk berkeluh kesah. Bila kusampaikan maksud Ayah dan Ibu itu, aku takut ia menjadi resah dan kemudian merasakan rumah menjadi gerah. Sesekali aku mencoba mendebatnya dengan ‘burung’ dan ‘rama-rama’ sebagaimana yang kukatakaan dalam surat waktu itu, ia mendebat balik tidak kalah sengit.
***
            Hari terus berlalu hingga genaplah dua minggu. Aku menunda terlalu lama. Aku harus menyampaikannya dengan segera. Aku kemudian mencari-cari cara.
            “Aku dengar Si Upiak sudah menikah sebulan yang lalu. Kau datang?” tanyaku tiba-tiba.
            “Iya, dia menanyakan kau. Aku bilang kau merantau ke tanah orang” ia menjawab datar.
            “Aku dengar ia menikah dengan kekasihnya. Nggg, apa kau juga sudah punya kekasih?”
            Lalu kemudian hening, ia bungkam seribu bahasa.
            “Rasa-rasanya Ayah dan Ibu mengehendakimu untuk segera menikah. Mereka ingin segera menimang seorang cucu” ungkapku dengan suara sedikit serak dibersamai degup jantung yang berpacu tak menentu.
            “Kenapa tidak kau saja yang menikah?” sergahnya, aku terdiam beberapa jenak.
            “Aku lelaki”
            “Jadi harus perempuan yang lebih dahulu?!” ia naik pitam, matanya memerah, air mata menganak sungai di pipinya. Aku terhenyak, tak mampu berkata-kata. Aku membiarkan Arni berlalu dari hadapanku, ia menuju kamar dan membanting pintu kamarnya. Aku sama sekali tak menyadari bahwa Ibu tengah berdiri di pintu dengan beberapa kantong belanja, beliau terisak, air mata berlelehan di wajah tuanya.*** Kampungpesisir, 3 Juli 2012
dimuat di rubrik Remaja Singgalang, Minggu 20 Januari 2012

Postingan terkait:

1 Tanggapan untuk "Sayap yang Mengembara"

  1. i like this,, cuma rasanya ending'a lbih baik di perjelas lagi,,



























    ReplyDelete

Hargailah penulis dengan memberikan apresiasi berupa komentar atau membagikan. Jangan lupa tinggalkan kontak agar saya bisa mengunjungi balik. Salam semangat :)