Nelayan yang Takut Melaut


Tepat sepuluh menit sebelum jam dua siang dia datang ke rumahku lalu tanpa dipersilakan mengambil duduk di kursi tamu, raut wajahnya masam-masam kepundung. Aku ikut duduk tanpa protes akan kedatangannya yang tanpa mengucap salam itu. Kuperhatikan dia sekali lagi, tubuhnya tampak layu, lebih layu dari biasanya saat dia berkunjung. Kupastikan dia tengah bermasalah, masalah yang membuatnya datang untuk sekadar bercerita sembari menyeruput kopi dan menghisap rokok kretek. Masalah terkadang terlalu sadis memenuhi hampir dari seluruh ruang pikir dan mencuri lemak dari tubuh, semakin hari kedatangannya kudapati dia semakin kerempeng dari pertama kali kami bertemu dahulu. Hanya saja setiap kedatangannya pada hari-hari yang lalu, dia tak pernah alfa mengucapkan salam. Meskipun seorang pelaut, dia paham bahwa mengucap salam sebelum bertamu adalah sebuah doa bagi si tuan rumah dan sebuah salam bukanlah paten kaum agamawan. Maka barangkali masalahnya sedikit berbeda kali ini.

“Kalau kau ingin membuat kopi pergi saja ke dapur. Gula dan kopi ada ditempat biasa” tawarku setelah dia menggambil duduk pada posisi yang dia pikir paling empuk. Biasanya dia selalu beranjak ke dapur untuk menyeduh secangkir kopi sebelum mengalirkan cerita (tentang masalah-masalah) dari mulutnya.
“Aku tidak sedang ingin minum” semburnya, dia membuang muka ke halaman, tatapannya kosong. Aku memutuskan untuk beranjak menyeduh kopi, menyeduhkan satu untuk lelaki itu, setidaknya untuk kali ini saja.
***
            Dia adalah Liman, seorang nelayan muda di kampungku. Aku mengenalnya belum genap setahun. Pertemuan kami terbangun tanpa kesengajaan tatkala dia tengah kebingungan mencari dayung biduknya yang hilang. Dia kalimpasiangan, aku yang tengah duduk berkhayal di bawah sebatang cemara mendapat getahnya ketika dia menemukan dayung biduk itu tersangkut di atas cemara dimana aku bernaung. Dia menyemburku dengan perkataan pelaut, aku belagak tak menyadari kehadirannya yang berteriak itu. Dia naik pitam lalu dihantamnya pelipisku. Aku terhuyung dan balik membalas dengan menyikut perutnya kemudian kami bergumul di pasir beberapa menit dengan sengit. Kesudahannya kami basah oleh peluh dengan butiran-butiran pasir yang menyelimut.
            Selepas pergumulan itu kami tersandar lesu pada sebatang pohon dimana dayung itu tersangkut. Aku kembali sibuk dengan pikiran-pikiran yang masih berserak di benak dan barangkali dia juga begitu. Lalu senada angin yang berhembus, percakapan antara kami mengalir dengan perawalan sebuah pertanyaan tentang keberadaanku yang baru tertangkap olehnya. Lantas kujawab bahwa aku adalah pendatang lantaran baru kembali dari perantauan dan langsung singgah di kampung ini, kampung perempuanku. Aku adalah semenda seorang nelayan tua di simpang tiga. Kulihat dia mengangguk-angguk, sebelumnya kami memang belum pernah bertemu muka.
            “Ooo....” bibirnya sebulat kepundung “jadi kau laki Sulis anak sulung Pak Bakar ternyata. Aku dengan isterimu masih bersanak sebab ayahnya masih kerabat ayahku. Aku hanya mendengar namamu sebab saat pernikahan kalian aku tengah ke luar kota. Maafkan atas kelancanganku” tambahnya dengan nada seolah tidak pernah terjadi apa-apa, aku hanya tersenyum getir sembari mengusap-usap pelipis yang biru.

***
            Aku baru kembali dari dapur dengan dua cangkir seduhan cappucino. Itu adalah cappucino terakhir yang tersembunyi di sudut rak lemari piring di dapur, sengaja disembunyikan oleh istriku untuk kami seduh berdua ketika menonton sinema malam televisi malam ini. Dengan sebuncah perasaan bersalah kusobek bungkus cappucino itu kemudian menuangkan bubuknya ke dalam gelas keramik sebelum menambahkan air panas dari termos merah muda di atas meja dan mengaduk sekadarnya. Tetap kubuatkan meski dia berkata tidak, kalau-kalau dia berubah pikiran, masalah dengan isteriku itu adalah urusan nanti.
            Dia masih duduk di kursi tamu dengan sebatang kretek terjepit di antara jemarinya yang kasar. Asap mengepul memenuhi ruang tamu yang tidak begitu besar. Wajahnya tampak sedikit mengendur setelah menghisap kretek itu. Dua cangkir cappucino kuletakkan di atas meja sebelum kemudian mengambil duduk di sebuah kursi di hadapan lelaki itu, berbatas meja petak beralas putih berenda dengan motif bunga. Dia hanya melirik sekilas.
“Kau tahu” uajrnya saat menekan-nekan kepala rokok pada asbak ”rumah tanggaku tengah terancam!” wajahnya berubah murung seketika, sungguh tak bisa lagi di analogikan dengan kepundung. Aku yang duduk di hadapannya hanya dapat diam. Kuterka dia akan menceritakan sesuatu yang intim, sesuatu yang perlu pertimbangan yang matang sebelum diceritakan kepada orang, dan tentu lebih memusingkan daripada uang sekolah anak yang menunggak atau kredit sepeda motor yang jatuh tempo. Kutunggu dia membuka kotak rahasianya sebagaimana biasanya. Semenjak perkenalan satu tahun silam antara kami sudah tidak ada pembatas. Dia sering datang kerumahku pada waktu-waktu senggang ketika dia tidak melaut dan aku tengah libur kerja atau pulang cepat dari sebuah pabrik makanan ringan di kota kecamatan. Kami lalu bertukar cerita tentang segala macam hal, bahkan rahasia dapur sekalipun.
“Aku tak ingin hubunganku berantakan. Aku sangat mencintainya dan tentu saja kau tahu itu” ungkap pelaut itu.
“Bagaiamana ceritanya bisa terancam begitu?” tiba-tiba saja aku disulut penasaran.
“Karena akhir-akhir ini aku tidak pergi melaut!” dia menjawab ketus.
            Selepas pernyataan itu dia bercerita bahwa dia tengah dilanda ketakutan untuk pergi melaut, bahkan saking berlebihannya dia berkata rela mati ketimbang harus pergi mengarungi laut, ikan hanyalah sesuatu yang dapat diukur dengan digit-digit notasi, sedangkan cinta yang datang dari hati? Sungguh sebuah ketakutan yang aneh bagi seorang yang berdarah pelaut ulung sepertinya—bagi pelaut gila yang hampir saja membunuhku gara-gara sebuah dayung. Dia berkata baru menemukan ketakutan itu beberapa hari ini lepas selamat dari amuk badai dan gelombang laut pada suatu pagi yang basah. Kendati demikian bukan badai dan gelombang yang membuatnya tidak berani lagi melaut lantaran ia sudah sering bertaruh nyawa. Ada yang dia temui saat biduknya terombang-ambing di tengah laut dan dia tak ingin menemukan sesuatu itu untuk kali kedua. Perihal apa sebenarnya sesuatu yang dia bicarakan itu dia belum mau membuka mulut, dia hanya berkata bahwa cuti melautnya mengundang tanya anak dan istrinya. Bukan hanya sekali mereka menanyakan itu tapi berkali-kali, ketika pagi lalu siang hingga petang, bahkan sesaat sebelum peraduan malam sekalipun.
“Istriku adalah perempuan yang nyinyir dan anakku mewarisi kenyinyirannya. Setiap hari takkan berhenti mulut mereka bertanya ‘jadi kenapa Ayah tidak melaut?’ kepalaku serasa ditimpa buah kelapa mendengar pertanyaan itu” ungkap pelaut itu sembari menyulut rokok ke sekian.
“Kenapa kau tidak mengaku saja? Dengan begitu mereka kan tidak akan bertanya lagi”
“Nah, itu masalahnya. Bila aku mengaku barangkali mereka akan tertawa terpingkal-pingkal dan mengatakan aku pembual, kemudian mereka akan memaksaku untuk kembali ke laut”
“Kau lebih memilih untuk terus mendengar pertanyaan itu?”
“Entahlah, tapi aku sudah mempunyai jawaban agar mereka tidak lagi bertanya pertanyaan itu lagi, meskipun akan mendatangkan pertanyaan baru”
“Jawaban?” aku kembali disulut penasaran, tanganku spontan menopang dagu. Dia memudurkan rokoknya lalu menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya.
“Baiknya kuceritkan juga agar kau tahu....”
Lalu dia mulai bercerita tentang jawaban-jawaban yang dia maksudkan itu. Jawaban untuk meng-counter pertanyaan nyinyir anak dan istrinya sepanjang hari. Di mulai dari Ayah sedang tidak enak badan, air laut sedang pasang, ikannya sedang sedikit lebih baik mengojek saja, dayung biduk patah, hingga jawaban yang terakhir itu yang katanya baru berupa rencana.
“Kau gila apa?!” aku terkejut.
“Tidak, tidak. Ha ha ha. Aku hanya berjuang untuk menjaga keutuhan rumah tanggaku” sergahnya.
Gila. Sungguh gila. Seorang nelayan ulung berniat melakukan hal itu hanya karena menghindar dari laut, dari sesuatu yang dia takutkan itu.
“Jadi kapan akan kau lakukan itu?” tanyaku.
“Esok. Esok pagi, akan kulubangi biduk yang sudah susah-susah kubuat sendiri itu. Semata-semata untuk menjaga keutuhan rumah tanggaku. Apa pun akan aku lakukan!” mantapnya. Aku tergoda pula untuk bertanya apa yang ditanyakan anak dan istrinya yang nyinyir itu. Bertanya akan hal yang mampu membuat nelayan sepertinya menjadi takut sebenar-benar takut hingga berencana merusak biduknya yang pada waktu dahulu sangat ia cinta, yang hanya karena dayung yang hilang saja dia tega menghajar orang dan bergumul di pasir pantai yang panas.
“Jadi kenapa kau tidak melaut?”
Dia terkejut mendapati aku sama pula dengan anak dan istrinya hingga kemudian dia mafhum bahwa pertanyaan itu memang harus diutarakan daripada mati dilumat penasaran. Dia diam sejenak, menimbang-nimbang.
“Cepatlah kau katakan, toh kita sudah tidak ada lagi rahasia-rahasia!” paksaku, api penasaran telah menyulut hingga ke ubun-ubun.
“Ng...” dia tampak masih ragu, rasanya hendak kutarik kerah bajunya agar dia tidak mengulur-ulur waktu. “Asal kau pandai menutup mulut” aku mengangguk-angguk cepat, wajahku barangkali tampak serupa anak ayam yang menanti rimah di pinggir teras.
“Aku bertemu dengan seorang putri duyung di atas batu karang dan dia berkedip kepadaku” ungkapnya dengan mimik serius. Ah! Wajahku memerah menahan sesuatu.***

Dimuat di rubrik Estetika Singgalang, Minggu, 09 September 2012

Postingan terkait:

1 Tanggapan untuk "Nelayan yang Takut Melaut"

  1. Hahahaaa...
    lucuuulucuuuuu...
    bener tuh tindakannya buat gak ngasih tau anak ma istrinyaaa.. (´▽`)/ \(´▽`)/ \(´▽`)/

    ReplyDelete

Hargailah penulis dengan memberikan apresiasi berupa komentar atau membagikan. Jangan lupa tinggalkan kontak agar saya bisa mengunjungi balik. Salam semangat :)