Sketsa Malam Kota Metropolitan

Nah, kemaren ni coba kirim cerpen buat Lomba CIpta Cerpen Pemuda Kemenpora...
Dan alhamdulillah ndak menang...
Alhamdulillah tahun depan bisa ikut lagi, insya Allah..
Ya, cerpennya masih berantakan, haha.. maklum masih pemula...
Silahkan dibaca..
...........
Angin bertiup lembut membawa segenap rasa rinduku. Semua canda tawa, perhatian, dan belai lembut kasih sayang dari mereka. Setiap bentakan, amarah, dan nasehat-nasehat yang menghujamku. Setiap senyuman, rayuan, pujian, dan harapan-harapan akan diriku. Aku tahu pasti hal ini akan terjadi saatku pergi meninggalkan mereka sejenak dan membawa harapan itu. Kerinduan ini datang setiap saat dan dengan mudahnya mengotak-atik hati ini.



Aku menatap kedepan memandangi hiasan-hiasan malam yang begitu mempesona. Ku coba menekan hati, memendam rasa, mencoba menghibur diri karena ku disini untuk menjemput impian. Namun tetap saja gagal karena hati jauh lebih kuat dari pikiran. Apalagi ketika ku ingat ibu berteriak-teriak memanggilku untuk makan disaat melakukan hal yang sama, menatap langit malam.

Kusadari semua itu berbeda meskipun melakukan hal yang sama. Dua tahun yang lalu adalah malam terakhir ku menatap langit dari rumah kecil tempat ku bernaung, ditemani pohon-pohon pisang dan kelapa yang bertebaran di lapangan beralaskan rerumputan. Pesona malam itu masih tergambar jelas dalam benakku dan terekam abadi disebuah lembaran sketsa dalam sebuah buku gambar lusuh pemberian ibu. Namun disini tak ada pohon pisang ataupun pohon kelapa didepanku melainkan gedung-gedung bertingkat dengan lampu-lampu yang berkilau. Ini kota besar, kota terpenting di negeri ini, maka tak heran kota ini bagai sentralisasi pembangunan di negeri ini.

Sejauh mataku memandang, malam ini tak begitu indah dibandingkan dengan malam itu. Langit malam kota metropolitan tak sedikitpun menelan rasa rindu kepada kampung halaman. Namun disini lah cerita ini bermula, ketika seorang pemuda yang merantau demi cita-cita. Mengadu nasib demi harapan-harapan yang membebani pundak dan membuat setiap langkah terasa berat karenanya. Kulukis sketsa malam kota ini, kota tempatku menggapai impian, Jakarta.

***
“ dy..” suara lembut itu memecah sepi
“eh, ada apa na?” tanyaku padanya
“mengapa diluar malam-malam seperti ini?” balasnya
“ah tidak, hanya menikmati suasana malam” tuturku

Gadis itu tersenyum, namanya Diana, putri tunggal pasangan Pak Tyo dan Bu Dini. Diana sebaya denganku dan sekampus denganku. Itupun karena kemurahan hati orang tuanya yang mengajakku kesini dan menguliahkanku.

“kamu keberatan jika aku menemanimu disini?” tanya Diana
“tidak, aku malah senang jika ditemani” jawabku dengan senyuman

Gadis manis itu duduk disampingku untuk menemaniku menikmati indahnya lukisan malam. Mata indahnya menatap langit luas, memandang lukisan alam mahakarya Sang Pencipta. Aku hanya bisa memandang gadis itu dalam diam, dia sungguh menawan.
“malam ini begitu indah” suara lembutnya merambat ke telingaku
“iya, apalagi ketika penghuni-penghuni langit malam itu menampakkan keindahannya” jelasku
“aku ingin sekali menjadi bulan dan bintang disaat yang sama” ujarnya
“maksudmu na?” tanyaku meminta penjelasan darinya
“aku ingin menjadi bulan karena bintang selalu setia menemaninya, lalu menjadi bintang dan setia menemani bulan, sebuah simbiosis indah alam” jawabnya.
“aku mengerti” sambil menganggukan kepala.

Diana terlihat begitu menikmati pesona malam ini, matanya jarang berkedip dan tatapannya tak terlepas dari jeratan lukisan malam. Aku masih saja memandangnya dan mengagumi sosoknya yang lembut.
Tanganku beranjak menggapai pensil dan sebuah buku gambar yang tergeletak disampingku. Ku gores lembaran buku itu dengan melukis sosok gadis manis yang berada disampingku.
“dy, kamu menggambar apa?” tanya Diana
“jangan bergerak, tetaplah seperti itu” pintaku
“kamu menggambar aku ya?” tanyanya lagi
“hmm, iya” jawabku sambil tersenyum
“awas kalau jelek ya” guraunya
Kami berdua tertawa memecah sepi di malam itu.

Beberapa menit berlalu, sketsa itupun selesai, Diana langsung merebut buku gambar itu dariku ketika melihat ku sudah berhenti menggores lembaran putih buku itu. Mata indahnya terlihat serius mengapresiasi setiap lembaran-lembaran buku gambarku. Untuk kesekian kalinya aku hanya memperhatikannya dalam diam.
“wah, ini bagus, aku suka” ungkapnya
“bagus? Syukurlah kalau begitu” jawabku dengan senyum bangga
“iya, gambar yang lain juga bagus” pujinya antusias
“benarkah? Wah, terimakasih pujiannya na” senyumku pun semakin merekah
“sama-sama, buku ini buatku ya” pintanya
“tapi ini buku gambarku satu-satunya” jelasku
“nanti kita beli lagi” jawabnya singkat
“ya sudah, ini buatmu tapi jaga baik-baik ya” tuturku sambil memberikan buku itu
“iya, terimakasih dy” ujarnya

Diana terlihat begitu senang menerima buku itu dariku. Senyumnya menyimpul semakin indah saat dia menatapku tajam. Aku tak bisa mengartikan maksud tatapannya itu, namun saat mata kami beradu pandang, dadaku ini terasa sesak.
“sudah malam na, masuk yuk” ajakku
“iya, na juga sudah mengantuk, tapi aldy juga ya” pintanya
“iya, ayo masuk” ajakku lagi
“iya” jawabnya singkat

Kamipun beranjak masuk kedalam rumah mengakhiri acara memandang langit malam ini. Ini kali pertamaku menikmati lukisan malam bersama seorang gadis, ada rasa yang aneh yang membuatku menjadi tenang.
***

Cahaya mentari menjamah lembut tubuhku ketika burung-burung gereja berterbangan
dan berbaris di untaian kabel listrik pinggiran jalan. Mereka terlihat begitu riang bagai menyambut hal-hal baru yang akan terjadi di pagi yang cerah. Itu bukan hal yang luar biasa, burung-burung gereja itu sudah hapal dengan apa yang akan mereka kerjakan di saat seperti ini.

“dy…!” panggil Diana sambil menepuk pundakku
“astaghfirullah, kamu membuatku kaget” ujarku dengan nada kesal
“maaf, mama memanggilmu, sepertinya butuh bantuan” ujarnya.
“ya, aku kedalam dulu na”
“iya, cepatlah”

Setengah berlari ku masuk ke dalam rumah dan menemui Bu Dini.
“maaf bu saya telat” tuturku
“tidak apa-apa aldy” jawabnya
“oh ya, butuh bantuan bu?” tanyaku padanya
“iya aldy, tolong bereskan meja kerja ibu, lalu bawakan ibu desain-desain yang berserakan disana” pintanya
“baik bu” jawabku

Hari ini Bu Dini terlihat berbeda, wajah perancang busana dan pemilik butik itu terlihat lelah dan kurang bersemangat, aku tak tau kenapa yang ku tahu hanya menyelesaikan pintanya sesegera mungkin.

Ku masuki ruang kerja itu dan menemukannya berantakan. Kertas-kertas berserakan dimana-mana hingga alat tulis yang berpencar kian kemari. Tong sampah dibawah meja itupun penuh dengan kertas-kertas remuk. Mataku tertuju kepada kertas-kertas yang berserakan dimeja itu, mungkin inilah yang membuat Bu Dini tak bersemangat. Beberapa desain yang tak selesai ku kumpulkan dan membawanya keluar untuk diberikan kepada Bu Dini.
“Bu, ini semua yang ibu minta” sambil menyerahkan kertas-kertas itu.
“terimakasih dy” ujarnya
“sama-sama Bu”
Bu Dini menatap lesu tumpukan kertas itu. Selang beberapa saat pak Tyo menghapirinya.
“ayo kita berangkat ma” ujarnya pada Bu Dini
“ya pa, takutnya client mama menunggu lama” ungkapnya
“oh ya Aldy, kamu tolong jaga Diana ya” pinta Pak Tyo padaku
“sudah besar gitu masa masih dijaga pak” candaku
“belum besar dy, dia masih saja gadis kecil bapak dan ibu” jelas Pak Tyo
“ ya pak, serahkan pada saya” jawabku
***
Pagi itu berlalu ditengah kesunyian hingga siang menjelang, rumah besar itu membisu yang terdengar hanya nyanyian-nyanyian dari laptop Diana yang diputar sekeras mungkin. Ketika mentari sudah mencapai poros tengah langit kami hanya sibuk dengan kegiatan masing-masing. Aku masih betah duduk didepan meja belajar sambil menggores-gores kertas dengan sketsa-sketsa yang terlihat acak-acakan dan tak tahu apa yang sedang dilakukan Diana, yang ku tahu dia memutar musik dengan keras.

Beberapa sketsa selesai ku gambar namun terpaksa berhenti karena kehabisan kertas. Buku gambar yang dijanjikan Diana itupun belum sempat dibeli sehingga ku hanya menggambar dalam kertas-kertas yang persediaanya pun telah habis. Aku beranjak dari meja belajar menuju kamar Diana untuk meminjam buku gambar yang kuberikan padanya itu, setidaknya masih ada beberapa halaman kosong yang bisa diisi.
“na… diana” panggilku
Tak ada jawaban dari gadis itu, mungkin karena musiknya lebih keras daripada suaraku.
“diana…” panggilku lagi dengan lebih keras
“eh ,, ya, ada apa dy?” jawabnya sambil membuka pintu kamar
“aku pinjam buku gambar waktu itu ya, ku mau tambah gambarnya” jelasku
“oh, aku cari dulu dy, tunggu ya” pintanya

Aku berdiri didepan pintu kamarnya hingga beberapa menit berlalu namun Diana masih belum keluar dengan buku itu. Sesaat setelah itu Diana muncul tapi tanpa membawa buku yang aku minta, wajahnya terlihat muram.
“dy, maafkan aku” sesalnya
“maaf untuk apa?” tanyaku heran
“hmm, bukunya…” jawabnya ragu
“kenapa bukunya? Diana tidak suka dengan buku itu?” tanyaku lagi
“bukan, malahan na sangat suka” bantahnya
“terus ada apa na?” tanyaku untuk kesekian kalinya
“maafkan na dy, bukunya hilang ntah kemana” jelasnya dengan menyesal

Aku sontak kaget dengan pernyataannya itu dan hanya diam seribu bahasa didepan gadis itu. Dia hanya menatapku dengan raut menyesal. Sedikit tergambar ekspresi marah dari wajahku namun aku tetap diam dan menyesal karena telah mempercayakannya pada Diana, buku itu penting bagiku karena buku lusuh itu kado ulang tahun dari ibu 2 tahun yang lalu.
“dy.. kenapa diam?” tanya Diana
“dy, aku minta maaf, bukan maksudku menghilangkannya, buku itu ku taruh di atas meja tadi malam namun kini ntah kemana” jelasnya
“ayolah dy, buka mulutmu dan berbicaralah sejenak, apa kau begitu marah padaku?”
“ntahlah na, buku itu berharga bagiku” jawabku
“nanti ku ganti dengan yang baru dy, maafkan aku”
“baru? Sekalipun buku itu begitu bagus dan mahal takkan lebih berharga dari buku yang kamu hilangkan itu” jelasku dengan sedikit keras
“begitu berhargakah itu bagimu?”
“kamu pikir seberapa berharga pemberian seorang ibu?!” tanpa sadar aku membentaknya

Diana hanya diam menyesali semua itu atau tersakiti karena bentakanku, mata indahnya berbinar dan meneteskan air mata penyesalan. Diana menatapku sejenak dan beranjak memasuki kamarnya, pintu kamar tak lepas dari bantingannya. Aku terdiam merenungi apa yang baru saja terjadi, baru saja aku membuat seorang gadis menangis. Beberapa rasa bergejolak dihati ini, marah, sesal, sedih, atau apapun itu aku tak bisa membedakannya. Aku tahu, aku telah membuat gadis itu menangis dan baru kusadari dia gadis yang kusukai.
***
Langit senja membentang indah ketika mentari telah beralih ke ufuk barat. Sang rembulanpun telah menampakkan dirinya untuk menerangi malam. Aku bangun dari tidur lelap berteman rasa sesal atas apa yang kulakukan pada Diana siang tadi. Aku tak tahu apa yang dia lakukan setelah itu, seberapa lama dia menangis, seberapa banyak air mata yang dia buang, hingga seberapa berlebihan sikapku padanya. Aku bangkit dari tempat tidur dan segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Mendinginkan kepala dari amarah atas apa yang terjadi.
Setelah menghabiskan beberapa menit untuk membersihkan diri dan berpakaian aku melangkah keluar menuju ruang makan, Pak Tyo dan keluarga pasti telah menunggu disana. Mereka tidak mau makan sebelum aku bergabung dengan mereka.
“ayo aldy kita makan” ajak Pak Tyo
“iya pak” balasku dan mengambil posisi duduk
“ayo kita makan” kali ini Bu Dini yang mengajak
Kami pun sibuk dengan hidangan-hidangan yang tersaji diatas meja itu. Namun, semua hanya terdiam menikmati hidangan itu, ini tak seperti biasanya. Diana yang disampingku, Bu Dini yang didepanku dan Pak Tyo yang berada disampingnya sibuk menyantap menu malam itu tanpa sedikitpun bersuara.
“makanannya enak Aldy?” tanya Bu Dini tiba-tiba.
“hmm, iya Bu” jawabku
Bu Dini hanya tersenyum mendengar jawabanku.
“bagaimana dengan tugasmu menjaga Diana tadi Aldy?” tanya Bu Dini
“maafkan saya bu” jawabku seraya menunduk
Bu Dini menghela napasnya dan sepertinya akan mengatakan sesuatu. Mungkin saja dia akan marah padaku atas sikapku pada anaknya, atau bahkan memulangkanku ke kampung atas kekecewaannya, semua pikiran negatif berputar-putar di benakku.
“kenapa kamu membentak Diana karena buku ini?” tanya Bu Dini sambil memperlihatkan buku gambarku.
Aku heran kenapa buku itu bisa ada di tangan Bu Dini, tapi keherananku tak lebih besar dibandingkan kecemasan akan amarahnya dan semua kemungkinan hingga yang terburuk atas itu.
“baru sekali ini ibu lihat Diana menangis karena seorang lelaki” sesalnya
“maafkan saya bu” hanya kata maaf satu-satunya yang bisa ku ucapkan
“apa kamu tau apa yang dilakukan Diana setelah itu?” tanya Bu Dini
Beberapa pertanyaan menerjangku bagai sedang diinterogasi atas sebuah kesalahan yang tak bisa dimaafkan. Diana dan Pak Tyo hanya diam menonton ku yang dicerca pertanyaan-pertanyaan itu.
“saya tidak tau bu, saya tidur dikamar setelah itu” jawabku
“Diana memasak semua yang ada di meja ini untukmu” tiba-tiba Pak Tyo angkat bicara
Belum sempatku berbicara Pak Tyo menambahkan penjelasan untuk perkataannya tadi.
“apa kamu tidak sadar Diana suka padamu? Dia memasak ini sebagai permintaan maaf padamu” jelas Pak Tyo
Mendengar itu aku semakin menundukan kepala dan hanya bisa diam dalam penyesalan. Aku memang tak tahu dan tak bisa tahu dengan apa yang telah dijelaskan Pak Tyo tadi. Perasaan malu pun menggerogotiku, membuatku tak berani berkata apa-apa.
“ini bukumu, ambilah” tutur Bu Dini sambil menyerahkan buku itu.
Aku menerima buku itu namun hanya diam.
“saya benar-benar kecewa denganmu dy” jelasnya
“maafkan saya bu” lagi-lagi hanya kata itu yang keluar dari mulutku
“kenapa kamu tidak pernah memperlihatkan gambar-gambar yang bagus ini pada saya” sesalnya
Aku kaget dengan apa saja yang beliau katakan dan segera mengangkat kepala. Ku pandangi Bu Dini mencari raut bergurau di wajahnya, tapi yang ku temukan dia serius dengan itu.
“desain mu bagus, client saya suka sekali, saya tadi sempat putus asa karena tidak menyelesaikan permintaan mereka tapi untung saya menemukan buku ini di kamar Diana tadi pagi” tuturnya
“maksud ibu sketsa saya?” tanyaku meminta penjelasan
“iya, gambar-gambar orang yang berpakaian aneh-aneh dan modis itu” jawabnya
“benarkah?” tanyaku lagi
“iya aldy, kamu berbakat, harus saya akui yang muda yang kreatif” jawabnya
“itu hanya gambar hasil goresan tanpa tujuan bu, bagaimana bisa di anggap desain?” jelasku
“anak muda, kadang kita tidak sadar dengan potensi dalam diri. Saya mau kamu membantu saya mendesain disamping kuliahmu”
“saya tidak yakin bisa menjalankan permintaan ibu” jawabku
“ini bukan permintaan tapi perintah, kalau kamu tidak mau kamu boleh pulang kampung” ancamnya sambil tersenyum
Semua penyesalan dan sedihku menghilang ntah kemana ketika melihat Bu Dini dan Pak Tyo tersenyum padaku. Namun sayang, Diana tak sedikitpun menampakkan senyuman manisnya, dia sepertinya masih marah padaku.
“dy, selamat ya” ucap Diana
Dia menatapku sambil tersenyum, ini kali kedua mata kami beradu dan membuatku linglung sehingga hanya bisa tersenyum menanggapinya. Setidaknya karena sketsa ini aku bisa membantu keluarga ini dan bisa bertahan lebih lama disini, dirumah gadis yang kusukai. Namun ku masih bertanya-tanya apa benar aku berbakat karena selama ini bagiku ini hanyalah hobi. Apapun itu aku senang bias sedikit membalas budi keluarga ini.

Postingan terkait:

3 Tanggapan untuk "Sketsa Malam Kota Metropolitan"

Hargailah penulis dengan memberikan apresiasi berupa komentar atau membagikan. Jangan lupa tinggalkan kontak agar saya bisa mengunjungi balik. Salam semangat :)